Kades Tawangsari, Teras, Boyolali, Yayuk Tutik Supriyanti, peraih Kalpataru 2017. (Istimewa) Kades Tawangsari, Teras, Boyolali, Yayuk Tutik Supriyanti, peraih Kalpataru 2017. (Istimewa)
Jumat, 4 Agustus 2017 09:35 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

KISAH INSPIRATIF
Hobi Tanami Pekarangan Orang Lain, Perempuan Boyolali Ini Raih Kalpataru Provinsi

Kisah inspiratif ini dari seorang perempuan asal Boyolali yang meraih Kalpataru tingkat Provinsi Jateng.

Solopos.com, BOYOLALI — Perempuan asal Tawangsari, Teras, Boyolali, ini bisa dibilang sudah tak muda lagi, 57 tahun usianya. Namun, usia itu tak menghalangi semangatnya menjalani hobi menanam pohon yang sudah dia geluti sejak remaja.

Bahkan karena hobi itulah, perempuan bernama lengkap Yayuk Tutik Supriyanti itu berhasil meraih penghargaan di bidang pelestarian lingkungan, yaitu Kalpataru, dari Pemerintah Provinsi Jateng pada tahun ini.

Yayuk yang saat ini menjabat Kepala Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, memang hobi menanam pohon. Sudah banyak pohon yang dia tanam di berbagai tempat. Saking banyaknya, tanah-tanah tak bertuan di pegunungan, perengan sungai, lahan-lahan tidur di desanya dia tanami pohon.

Bahkan, tak jarang pohon-pohon produktif di pekarangan warga tumbuh dan berbuah tanpa diketahui pemilik lahan siapa yang menanamnya. “Penghargaan ini bukan tujuan akhir saya. Kebetulan saja, hobi saya sejak masih remaja itu menanam. Jadi, anggap saja sebagai bonus,” ujarnya sembari tertawa renyah saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (3/8/2017).

Sepak terjang Yayuk dalam melestarikan alam memang layak diacungi jempol. Jauh hari sebelum ia didaulat warganya menjadi kades, Yayuk adalah aktivis sosial di masyarakat.

Ia terbiasa merogoh kocek pribadinya untuk membeli bibit-bibit tananam. Bibit-bibit itu ia tanam sesuka hatinya, di mana pun ia melihat ada lahan menganggur meski hanya sejengkal.

“Kadang sekali beli bibit saya habis Rp10 juta. Ada yang saya tanam sendiri saat mendaki gunung, kadang saya bagikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Dia mengaku sudah tak ingat lagi berapa bibit yang ia tanam dan bagikan. Hobinya menanam sejak ia masih remaja ini terus tumbuh. Selepas berumah tangga, hobinya itu tak luntur.

Malahan, ia kerap kali menyalurkan hobi tersebut di desanya. Pekarangan-pekarangan di tepi jalan raya, di tepi sungai, di tanah tak terpakai, ia tanami bibit-bibit.

Yayuk seakan tak jera meski bibit yang ia tanam banyak yang mati. “Kalau ada bibit mati, saya tanami lagi. Mati lagi, saya tanami lagi, begitu seterusnya,” ujarnya.

Keaktifannya di kegiatan sosial itulah yang secara tak langsung mengantarkannnya menjadi seorang kepala desa. Di sinilah, ruang gerak Yayuk kian leluasa.

Impiannya untuk menyulap desanya menjadi desa produktif dan mandiri menemukan momentumnya. Yayuk lantas memelopori terbitnya Peraturan Desa (Perdes) tentang Perlindungan Satwa, Perdes tentang Pemanfaatan Lahan, Perdes tentang Tanah Kas Desa, dan Perdes tentang Tanah Kering.

Yayuk membuat sejumlah gebrakan. Dalam tempo kurang dari empat tahun sejak ia menjabat kades, tak sedikit warganya yang bangkit dari keterpurukan ekonomi berkat mengolah sumber daya alam desa, baik pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan sungainya.

“Kami bersama-sama warga memelopori berdirinya kampung buah sirsak, kampung buah naga, kampung buah jambu, kampung buah pisang, kampung nangka, kampung pembibitan, dan lain-lainnya. Pekan depan, juga akan diresmikan wisata river tubing,” jelas istri Agus Triyono ini.

Tak hanya mengolah tanaman produktif, Yayuk juga giat mengelola usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang berhasil mengangkat ekonomi warga miskin di desanya. Mereka ada yang bergerak mengolah makanan ringan, jajanan, peternakan, pertanian, serta sampah-sampah dan kotoran binatang. “Bahkan, untuk kerupuk karak tanpa borak, kami harus bisa stok 3 ton/pekan,” jelasnya.

Sebagai kado atas dedikasinya itu, Yayuk dipanggil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Rabu (19/7/2017) lalu. Tanpa dinyana, kiprahnya selama ini menyedot perhatian pemerintah.

“Alhamdulillah, saya dapat penghargaan Kalpataru bidang pelestrian lingkungan. Ini sungguh di luar dugaan saya,” ujarnya.

Salah satu warga Tawangsari yang terlibat aktif dalam pengolahan sampah, Indah, mengaku sudah menikmati hasil ekonomi dari usaha pengolahan sampah yang diinisiasi Yayuk sejak 1,5 tahun lalu. Indah bekerja hanya sepekan sekali.

Namun, hasilnya mampu menambah pendapatan rumah tangga Rp600.000/bulan. “Lumayan bisa dapat pekerjaan sampingan dengan usaha sampingan pemilahan sampah ini. Kerja hanya sepekan sekali, bisa dapat pendapatan Rp600.000/bulan,” ujarnya.

 

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Universitas Prasetiya Mulya Tawarkan Program Pendidikan Ini ke Semarang

Universitas Prasetiya Mulya menawarkan program pendidikan yang sarat dengan entreprenurship atau kewirausahaan kepada warga Semarang. Solopos.com, SEMARANG — Universitas Prasetiya Mulya, Senin (16/10/2017), menggelar media launcheon di Kota Semarang, Jawa Tengah. Program pendidikan yang pekat dengan entreprenurship atau kewirausahaan pun…