Elpiji 3 kg (Dok/JIBI/Solopos) Elpiji 3 kg (Dok/JIBI/Solopos)
Jumat, 4 Agustus 2017 17:35 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

Kelebihan Pasokan, Jatah Elpiji Melon Karanganyar Dikurangi

Jatah elpiji 3 kg untuk wilayah Karanganyar dikurangi karena diduga kelebihan pasokan.

Solopos.com, KARANGANYAR — Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian, Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Karanganyar, Budi Supriyono, menuturkan Pertamina melalui Hiswana Migas memangkas pasokan tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram mulai Agustus.

Budi menjelaskan alasan Pertamina memangkas pasokan gas bersubsidi setelah mempertimbangkan jumlah tabung gas yang beredar di masyarakat. “Pasokan harian gas elpiji ukuran tiga kilogram itu 31.000 tabung. Pertamina mengevaluasi jatah reguler dan tambahan selama Ramadan hingga Lebaran. Hasilnya over supply [kelebihan pasokan]. Mereka mengembalikan sesuai jatah reguler. Makanya terjadi pemangkasan pasokan setiap bulan,” tutur Budi saat dihubungi Solopos.com, Jumat (4/8/2018).

Budi menyampaikan Karanganyar menerima tambahan pasokan 5% dari pasokan harian saat Ramadan hingga Lebaran. “Kalau dibiarkan, penyaluran elpiji ke Karanganyar bisa 106% hingga Desember. Pertamina tidak menginginkan hal itu. Mereka mengambil langkah mengembalikan ke kondisi seharusnya,” jelas dia.

Budi mengaku menerima keluhan dari salah satu agen di Palur. Menurut Budi, agen itu mengeluhkan pemangkasan pasokan tabung elpiji 3 kg dari 200 tabung per hari menjadi 50 tabung.

Kondisi itu kemungkinan dialami 13 agen dan 1.500-an pangkalan elpiji di Karanganyar. Dia menyarankan agen dan pangkalan membuat surat permohonan penambahan jatah fakultatif ke Pertamina.

“Sebentar lagi Idul Adha. Desember ada pergantian tahun dan Natal. Permintaan elpiji pasti banyak. Mulai sekarang pangkalan dan agen harus bersiap. Silakan mengajukan penambahan fakultatif,” ujar dia.

Budi mengingatkan aparatur sipil negara (ASN), TNI/Polri, dan masyarakat berpenghasilan tinggi berhenti membeli gas bersubsidi. Elpiji melon hanya untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Sementara itu, sejumlah warga mengeluhkan karena kesulitan mendapatkan gas bersubsidi itu. Salah satu warga Kelurahan Jungke, Karanganyar, Suparmi, mengaku harus mendatangi beberapa warung di sekitar rumahnya.

Dia tidak mungkin menimbun gas melon untuk memasak di rumah. Tetapi, apabila tidak membeli lebih banyak dibanding biasanya, Suparmi khawatir akan kesulitan membeli gas melon.

“Harga Rp17.000-Rp18.000 per tabung. Biasanya eceran ya segitu. Tetapi sepekan ini saya harus mencari ke beberapa warung untuk mencari elpiji. Tidak semua warung menyediakan. Kalau sebelumnya ya mau beli kapan pun ada,” kata dia saat bebincang dengan wartawan di depan rumahnya, Jumat.

Hal senada disampaikan salah satu penjual nasi di Kelurahan Cangakan. Perempuan mengaku bernama Ana itu mendapat pasokan elpiji dari pangkalan.

“Kalau saya, pangkalan itu rutin antar gas ke sini. Katanya mereka memang agak susah. Pasokan dikurangi. Tetapi mereka [pangkalan] tidak mengurangi pasokan gas ke saya,” tutur dia.

 

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Potensi Lokal untuk Kemandirian Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (11/8/2017). Esai ini karya Hadis Turmudi, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta dan sedang menulis tesis tentang desa dan otonomi asli. Alamat e-mail penulis adalah adis.mandiri@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Desa-desa di Nusantara yang berjumlah kurang…