Garam makin langka dan mahal, garam halus juga ikut diburu konsumen di Pasar Gowok, Kamis (3/8/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Garam makin langka dan mahal, garam halus juga ikut diburu konsumen di Pasar Gowok, Kamis (3/8/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 4 Agustus 2017 14:55 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Garam Bata Masih Langka di Pasar

Rendahnya pasokan garam di sejumlah pasar di Jogja membuat harga komoditas ini melonjak tajam

Solopos.com, JOGJA-Rendahnya pasokan garam di sejumlah pasar di Jogja membuat harga komoditas ini melonjak tajam. Bahkan, stok garam batangan di pasaran kosong sejak beberapa hari lalu.

Berdasarkan pantauan Harianjogja.com di Pasar Kranggan, pedagang sembako di pasar ini mengaku tidak memiliki stok garam batangan atau garam bata, Kamis (3/8/2017). Mumun, salah satu pedagang sembako mengatakan garam bata sudah beberapa lama ini tidak ada pasokan.

“Barangnya tidak ada sejak Lebaran. Terakhir jual masih sekitar Rp17.000, naik sampai Rp32.000,” ujar Mumun.

Pedagang sembako di Pasar Gowok, Sleman, Yunita mengatakan mahal dan murahnya garam bata juga tergantung merek. Paling mahal merek Ndang-Dut, kisaran harganya kalau normal sekitar Rp12.500 satu pak isi 12 buah, namun sejak isu kelangkaan harganya bisa mencapai Rp30.000 ke atas.

“Kalau di tempat saya merek yang murah. Saya masih jual Rp5.000, ini stok lama yang dipasok Lebaran lalu. Kalau di tempat lain mungkin harganya sudah sampai Rp10.000 lebih,” ujar Yunita.

Agus, pedagang lainnya mengatakan sejak harga garam naik dan garam bata kosong, banyak pembelinya beralih ke garam halus. Bahkan, harga garam halus juga ikut naik dengan kenaikan mencapai dua kali lipat.

Harga satu pax garam bubuk yang paling mahal dengan berat 250 gram per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp102.000. Agus memaparkan dalam satu pax terdapat 40 bungkus garam meja, sebelum naik harga per pax hanya Rp62.000.

“Kalau sekarang harga eceran garam meja ini jadi Rp3.000, sebelumnya hanya Rp1.500 per bungkus,” jelas Agus.

Sedangkan untuk garam bata yang termurah sebelumnya hanya Rp3.500 sekarang jadi Rp11.000 per bungkus dengan isi sekitar 12 buah. Sedangkan garam bata dengan tekstur lebih halus, biasanya hanya Rp12.500 sekarang jadi Rp35.000.

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati tak menampik jika garam bata di pasaran mengalami kelangkaan selama empat minggu ini. Kendati sempat datang pasokan garam dari Pati, namun pasokan tersebut belum mencukupi kebutuhan. Hingga saat ini, pihaknya juga masih menanti instruksi dari pemerintah pusat terkait persoalan pasokan komoditas tersebut.

“Menurut data dari Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY kebutuhan garam DIY per tahun itu sekitar 37 ton. Sedangkan pasokan kemarin kalau tidak salah dari Pati, belum bisa mencukupi,” ungkap Yuna.

Lowongan Pekerjaan
Sales Lapangan FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Perlindungan Kearifan Lokal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (2/8/2017). Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan peminat tema-tema kebudayaan. Alamat e-mail penulis adalah tundjungsutirto@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan…