Tundjung W Sutirto tunjung_ws@yahoo.co.id Pemerhati budaya Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret Tundjung W Sutirto tunjung_ws@yahoo.co.id Pemerhati budaya Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret
Jumat, 4 Agustus 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Perlindungan Kearifan Lokal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (2/8/2017). Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan peminat tema-tema kebudayaan. Alamat e-mail penulis adalah tundjungsutirto@gmail.com.

Solopos.com, SOLO–Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kearifan lokal diartikan sebagai nilai-nilai luhur yang berlaku dalam masyarakat setempat, antara lain untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup dan sumber daya alam secara lestari.

Di dalam kearifan lokal tentu terkandung ide dan gagasan atau pengetahuan yang lahir dari masyarakat setempat dalam menjalankan kehidupan di lingkungan sekitar.         Termasuk bagian dari kearifan lokal adalah pengetahuan tradisional yang merupakan substansi kegiatan intelektual dalam konteks tradisional.

Ada keterampilan, inovasi, dan praktik-praktik dari masyarakat hukum  adat dan masyarakat setempat yang mencakup cara hidup secara tradisi, baik yang tertulis maupaun tidak tertulis, yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Masalahnya adalah bagaimana pelaksanaan perlindungan terhadap kearifan lokal itu? Sesuai dengan UUD 1945, negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonsia.

Untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana pelaksanaan pengakuan dan perlindungan kearifan lokal itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.34/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.

Dengan regulasi tentang perlindungan kearifan lokal itu maka setiap pemerintah daerah di Indonesia atau pengampu kearifan lokal dapat mengakui dan melindungi kearifan lokal. Dalam regulasi yang diundangkan pada Juni 2017 itu  dijelaskan tujuan pengaturan kearifan lokal.

Tujuan pengaturan kearifan lokal adalah agar pengampu kearifan lokal mendapat pengakuan, perlindungan, dan memperoleh pembagian keuntungan yang adil dan seimbang dari pemanfaatan kearifan lokal dalam relevansi pengelolaan lingkungan hidup. Termasuk dalam lingkup pengaturan kearifan lokal adalah warisan budaya benda dan tak benda.

Selanjutnya adalah: Memerhatikan struktur regulasi…

Lowongan Pekerjaan
CV Maharani Food, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
”Despacito” dan Nasib Lagu Sejenis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Damar Sri Prakoso, Program Director Radio Solopos FM. Alamat e-mail penulis adalah damar.prakoso@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melarang pemutaran lagu Despacito di lembaga penyiaran publik…