Pengelola MCK komunal Tri Tunggal di RT 003/RW 001 Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Kasmi, membersihkan lantai, Senin (1/8/2016). Pengelola mematok tarif masuk MCK senilai Rp300-Rp500 per orang. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Pengelola MCK komunal Tri Tunggal di RT 003/RW 001 Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Kasmi, membersihkan lantai, Senin (1/8/2016). Pengelola mematok tarif masuk MCK senilai Rp300-Rp500 per orang. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Jumat, 4 Agustus 2017 21:15 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

11.460 Keluarga Solo Masih BAB Sembarangan

Masih ada 11.460 keluarga di Kota Solo yang punya kebiasaan BAB sembarangan.

Solopos.com, SOLO — Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo mencatat 11.460 keluarga atau 7,75% dari total keluarga di Kota Bengawan masih punya kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat DKK Solo, Ida Angklaita, menjelaskan pemerintah kelurahan di Solo telah menyurvei warga mereka yang masih BAB sembarangan. Hasil survei tersebut kemudian dilaporkan pemerintah kelurahan lewat puskesmas ke Pusat Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dia menyebut data hasil survei atau laporan dari setiap kelurahan di Solo maupun daerah lain di Indonesia bisa dilihat melalui aplikasi STBM-Smart Umum. “Berdasarkan data yang disajikan STBM-Smart Umum, sekarang di Solo tercatat ada 11.460 keluarga yang masih open defecation atau buang air besar sembarangan,” kata Ida saat diwawancarai Solopos.com, Jumat (4/8/2017).

Ida menyebut data yang tersaji dalam aplikasi STBM-Smart Umum bisa berubah-ubah jika pusat data Kemenkes menerima laporan terbaru dari wilayah. Dia mengatakan DKK telah meminta pemerintah kelurahan bersama puskesmas secara berkala menyurvei lapangan memantau perilaku warga.

DKK juga meminta pemerintah kelurahan dan puskesmas mendorong warga yang kedapatan masih BAB sembarangan untuk memperbaiki pola perilakunya. Sesuai target nasional, kata Ida, DKK berharap jumlah warga BAB sembarangan di Solo nol pada 2019.

“Verifikasi ulang diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan. Verifikasi bisa dilakukan misalnya setelah ada intervensi program dari Kotaku [Kota Tanpa Kumuh]. Jumlah warga yang masih BABS bisa diperbarui lagi untuk dilaporkan ke Kemenkes,” jelas Ida.

Ida menerangkan berdasarkan hasil analisis, warga Solo masih BAB sembarangan karena mereka tidak punya lahan. Artinya, rumah mereka terlalu sempit untuk membuat septic tank atau bahkan jamban.

Warga tersebut kemudian buang kotoran ke saluran air terdekat dan tempat lain yang bukan seharusnya menjadi septic tank. Dia menyebut banyak juga warga Kota Bengawan masih masuk data keluarga BAB sembarangan karena mempunyai jamban namun membuang tinja ke aliran sungai.

“Rata-rata warga Solo yang masih BAB sembarangan itu punya jamban tapi buang kotoran tidak ke septic tank. Banyak dari mereka tinggal di dekat sungai. Mereka membuang tinja langsung ke aliran air. Perilaku seperti itu tentu berbahaya karena berpotensi menyebarkan penyakit manular,” jelas Ida.

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan Pemkot Solo terus berupaya menekan angka keluarga BAB sembarangan di Kota Bengawan. Dia menyebut, ada berbagai program yang telah dilakukan Pemkot, seperti membuat IPAL komunal, sedot tinja berkala, hingga relokasi warga bantaran.

Rudy meminta warga yang kesulitan membuat septic tank mandiri, melapor ke Pemkot Solo lewat kelurahan masing-masing. Pemkot akan membantu warga mendapatkan akses infrastruktur pembuangan lumpur tinja.

“Kami ada program pembuatan sanitasi komunal. Misalnya di Gilingan ini, ada 50 keluarga masih buang kotoran di sungai. Kami akan buatkan sanitasi komunal. Di Solo masih ada 11.000 sekian keluarga yang biasa BAB sembarangan,” jelas dia.

Namun demikian, menurut Rudy, itu data lama. Setelah dicek, jumlahnya sudah berkurang banyak. “Pucangsawit misalnya di keterangan ada 16 keluarga yang BAB sembarangan. Saya cek sudah tidak ada,” kata Rudy saat ditemui Solopos.com di sela-sela menghadiri acara penyerahan sertifikat tanah proyek PTSL di RT 003/RW 015 Gilingan, Jumat.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…