Salah satu kuliner khas Solo, tengkleng Bu Edy. (JIBI/Solopos/Dok.) Foto ilustrasi (JIBI/Solopos/Dok.)
Kamis, 3 Agustus 2017 10:35 WIB Indah Septiyaning W./JIBI/Solopos Solo Share :

WISATA SOLO
Hapus Citra Kalkulator Rusak, Pemkot Siapkan Standardisasi Harga Kuliner

Pemkot Solo menyiapkan standardisasi harga kuliner berdasarkan jenisnya.

Solopos.com, SOLO — Pemerintah Kota (Pemkot) Solo berencana menetapkan standardisasi harga kuliner yang dibedakan berdasarkan jenis makanan.

Hal ini untuk mengantisipasi harga kuliner dipatok di luar kewajaran dan merugikan citra wisata kuliner Solo. Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo menyampaikan hal tersebut saat membuka Sosialisasi Gerakan Revolusi Mental Pedagang Kuliner di Balai Tawangarum, Kompleks Balai Kota, Rabu (2/8/2017).

Kegiatan tersebut diikuti ratusan pedagang kuliner dari perwakilan pedagang kaki lima (PKL) serta pemilik rumah makan atau restoran di Kota Bengawan. “Kami akan buat aturan harga, misalnya nasi liwet itu berapa,” kata Rudy sapaan akrabnya.

Rumusan harga ini segera dilakukan Pemkot untuk mengantisipasi ulah pedagang nakal yang menetapkan harga tidak wajar. Langkah ini sekaligus sebagai respons Pemkot terhadap masukan dari masyarakat Solo dan luar daerah yang kebetulan berkunjung ke pusat kuliner di Solo.

Mereka menyesalkan tidak adanya standar harga yang jelas saat menikmati kuliner di Solo. Harga yang dipatok pun di luar kewajaran.

Ulah para pedagang tersebut dinilai bisa merusak citra Solo sebagai surganya kuliner. Rudy pun tidak ingin kuliner Solo dikenal sebagai kuliner dengan kalkulator rusak.

Karena itu, Pemkot akan merumuskan aturan dengan menggandeng pedagang serta beberapa pihak terkait lain. “Setelah 17 Agustus ini akan kita bahas sekaligus menghadapi Natal dan Tahun Baru,” katanya.

Rudy mengatakan kasus pedagang kuliner mematok harga di luar kewajaran banyak ditemukan saat hari raya, seperti Idul Fitri maupun Natal. Meski dinilai wajar, diperlukan aturan standardisasi harga saat momentum hari raya ini.

“Wajar memang naik karena pas Lebaran. Lainnya berlebaran, ini malah buka. Belum lagi buat membayar uang lembur karyawan saat Lebaran,” katanya.

Rudy meminta Dinas Perdagangan (Disdag) menyiapkan regulasi serta menghitung standar kenaikan harga saat momentum hari raya tersebut. Dalam kesempatan itu, Rudy juga mengingatkan kepada seluruh pedagang kuliner agar memiliki kesadaran memberikan pelayanan terbaik dengan beberapa cara yang terstandar.

Seperti halnya menyajikan rasa terbaik di produk kulinernya serta menampilkan daftar harga dan menu untuk memberi kepastian kepada konsumen. Standardisasi pelayanan usaha kuliner ini sebagai daya tarik tersendiri wisatawan untuk datang ke Kota Bengawan.

“Daftar harga dan menu harus ada. Jangan sampai makan lalu dikepruk dengan harga tidak wajar,” katanya.

Kepala Disdag Kota Solo Subagiyo mengatakan segera menyiapkan teknis untuk standardisasi kuliner di Solo. Disdag bersama organisasi perangkat daerah (OPD) teknis lainnya dan perwakilan pedagang kuliner akan membahas standardisasi kuliner tersebut.

“Jadi nanti standardisasi kuliner tidak hanya berlaku bagi rumah makan atau restoran, tapi juga usaha kuliner dari sektor kaki lima,” katanya.

Menurut dia, tidak sedikit produk kuliner kaki lima yang menjadi favorit masyarakat. Nantinya, pelaku usaha kuliner di Kota Solo harus memiliki tiga karakter agar citra wisata kuliner tetap baik, yaitu cita rasa, kualitas kandungan makanan, serta kejelasan harga.

 

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…