Agus Sarnyata, 43, menunjukkan koleksi Museum Erupsi Merapi 2010 di Dukuh Gondang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Rabu (2/8/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Agus Sarnyata, 43, menunjukkan koleksi Museum Erupsi Merapi 2010 di Dukuh Gondang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Rabu (2/8/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Kamis, 3 Agustus 2017 06:35 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

WISATA KLATEN
Benda Koleksi Museum Erupsi Merapi 2010 Pernah Ditawar Rp15 Juta

Wisata Klaten, benda kenangan erupsi Merapi tersimpan di museum buatan warga.

Solopos.com, KLATEN — Hadi Prayitno, 90, berjalan pelan menuju bangunan kecil tak dikunci di samping rumahnya. Di dalam bangunan berukuran 4 meter x 6 meter itu tersimpan benda-benda sisa erupsi Gunung Merapi 2010 lalu.

Satu unit sepeda motor hanya menyisakan rangka, blok mesin, dan sedikit ban karet terparkir di samping sepeda onthel yang juga tinggal rangka. Selain itu, ada juga mesin ketik yang hancur hingga berbagai perkakas dapur.

Bangunan itu adalah Museum Erupsi Merapi 2010 di Dukuh Gondang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten. “Sepeda itu dulu sering saya pakai sebelum erupsi Merapi,” kenang Hadi seraya menunjuk sepeda onthel bekas terbakar itu, Rabu (2/8/2017).

Puas melihat-lihat benda peninggalan bencana, ia lalu mengajak Solopos.com berbincang di gazebo depan rumahnya seraya menunggu Agus Sarnyata, 43, putranya sekaligus penggagas pendirian Museum Erupsi Merapi 2010.

Bangunan beratap genting tua, berdinding gedek, dan setengah temboknya dari batako itu awalnya adalah rumah Agus Sarnyata sekeluarga. Seusai erupsi, pemuda-pemuda kampung naik ke kampung yang terdampak.

Mereka menjumpai warga menjual rongsokan. “Kalau dijual kok eman-eman karena ini antik. Lalu, kami kumpulkan itu rongsokan dan kami bikin museum,” ujar Agus yang belum sempat berganti seragam sepulang mengajar.

Di dalam museum itu terlihat beberapa kenong dan gong berkarat, rongsokan mirip slenthem, sampai sebuah gitar bas yang tinggal bodi dengan warna menyerupai abu. “Ini beberapa alat kesenian yang sempat ditemukan. Di sini dulu ada jathilan dan orkes musik campursari,” beber dia.

Di sudut lain, kursi dan meja tertata seperti ruang tamu. Seorang kolektor pernah menawar kursi dan meja rusak itu seharga Rp15 juta. Ada juga yang menawar jam hingga ingin melelang seluruh koleksi museum.

“Hla wani pira [berani berapa]? Tapi memang enggak berniat saya jual,” ujar Agus terkekeh.

Ketua Pos Induk Balerante itu berharap ada dukungan pemerintah untuk mendirikan museum yang lebih layak. Museum itu bisa menjadi sumber pembelajaran soal efek erupsi Merapi, wisata, sekaligus pos pemantuan.

“Saya ingin bikin bangunan yang lebih layak seperti lazimnya museum. Soal lahan kami siap. Tapi kami terkendala dana,” ujar Agus.

Untuk merenovasi bangunan, pemuda-pemuda setempat berinisiatif mengumpulkan kayu. Namun, rencana itu hingga kini belum terealisasi.

Museum itu, lanjut Agus, dinilai penting sebagai sarana belajar masyarakat soal kebencanaan, dampak erupsi Merapi, hingga rekreasi. “Di sini orang bisa melihat kalau erupsi kena barang saja seperti ini dampaknya, bagaimana kalau itu terkena manusia?” tutur pria itu seolah beretorika.

Museum Erupsi Merapi 2010 berada satu kompleks dengan Pos Induk Balerante. Di pos itu tersimpan satu unit pancar ulang, alat komunikasi, early warning system (EWS), serta kamera CCTV satu channel. “Kamera CCTV-nya milik sendiri,” ujarnya tertawa menutup perjumpaan siang itu.

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…