Ilustrasi kamar hotel. (JIBI/Harian Jogja/Antara) Ilustrasi kamar hotel. (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Kamis, 3 Agustus 2017 09:53 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PERTUMBUHAN EKONOMI
Kedatangan orang Tua Mahasiswa Picu Kenaikan Okupansi

Pertumbuhan ekonomi di pertengahan tahun.

Solopos.com, JOGJA — Antusias pengunjung Jogja yang lebih berminat tinggal di rumah keluarganya di sebut-sebut menjadi pemicu penurunan tingkat penghunian kamar (TPK).

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, pada Juni 2017 lalu terjadi penurunan TPK baik untuk hotel bintang maupun nonbintang. TPK hotel bintang pada Juni sebesar 43,57% atau menurun 15,62% dibandingkan Mei. Sementara pada hotel non bintang dan usaha akomodasi lain  mengalami penurunan 4,25% sehingga membuat posisi TPK Juni 2017 adalah 25,40%.

Juni bertepatan dengan liburan Lebaran. Kepala BPS DIY JB. Priyono mengatakan, tren yang biasa terjadi saat liburan Lebaran yaitu pengunjung datang ke Jogja memilih tidak menginap di hotel tetapi di rumah keluarga. “Pendatang yang [datang ke Jogja untuk] liburan bukan silaturahmi [bukan Lebaran], biasanya menginap di hotel, tapi kalau Lebaran [menginap] di keluarga,” tuturnya pada wartawan, Selasa (1/8/2017). Minat untuk menginap di rumah sanak keluarga itu membuat TPK turun.

Ia mengatakan, pergerakan bidang akomodasi secara tidak langsung menggerakkan sektor lainnya, seperti transportasi, kuliner, sampai cinderamata. Priyono mengatakan, tren menurunnya TPK saat Lebaran seharusnya sudah menjadi perhatian para  pelaku usaha untuk mengatur produksinya. Begitu pula saat peak season.

Sementara itu, ia memprediksi, kondisi bisnis akomodasi pada Juli 2017 akan cenderung bergeliat. Sebab, pada masa-masa itu banyak mahasiswa baru yang mulai mendatangi Kota Pelajar ini untuk mengenyam pendidikan. “Pendaftaran sekolah itu Juli pada datang [ke Jogja] dan menginap. Apalagi Sleman punya empat kampus negeri. Ketika [mahasiswa] datang, mereka akan diantar orang tua dan butuh penginapan,” katanya.

Kalangan pengusaha oleh-oleh pun harus siap. “Seperti pengusaha bakpia, jangan sampai pas permintaan tinggi, bahannya langka,” lanjutnya.

Priyono mengatakan, penurunan TPK dialami semua hotel bintang. Menurut catatannya, penurunan tertinggi terjadi pada hotel bintang empat sebesar 21,67%.

Salah satu hotel bintang 4 di DIY, GQ Hotel, juga mencatat adanya penurunan TPK. General Manager GQ Hotel Deppy Meylani mengatakan, TPK pada semester I 2017 turun dibandingkan periode yang sama pada 2016.  “Okupansi [TPK] penurunan bisa sampai 20 persen [dibandingkan 2016],” katanya.

Tak dimungkirinya, kondisi TPK di GQ saat Lebaran lalu rendah. “Kita bisa bertahan dari FnB [food and baverage],” katanya. Menurutnya, penurunan TPK terjadi karena di Jogja semakin banyak hotel baru yang bermunculan sehingga persaingan semakin ketat.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…