ilustrasi ilustrasi
Kamis, 3 Agustus 2017 02:00 WIB JIBI/Solopos/Newswire Pendidikan Share :

Per 31 Juli, Jurnal Internasional Indonesia Lampaui Thailand

Akhirnya Indonesia berhasil mengalahkan Thailand dalam menghasilkan publikasi ilmiah internasional terindeks Scopus per Senin (31/7/2017) pukul 18.00 WIB.

Solopos.com, JAKARTA— Jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia yang terindeks Scopus mengalami kenaikan signifikan per Selasa yaitu mencapai 9.349 dokumen sementara Thailand hanya 8.204 dokumen.

Sebelumnya Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) menempatkan Thailand sebagai tolok ukur publikasi ilmiah. “Posisi tersebut melebihi Thailand yang tahun lalu posisinya di atas Indonesia. Tidak lama lagi publikasi ilmiah internasional Indonesia akan melampaui Singapura yang berada pada 10.977 publikasi,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Jakarta, Selasa (1/8/2017), seperti dilansir Antara.

Publikasi ilmiah internasional merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa selain jumlah kekayaan intelektual dan tingkat kesiapan hasil teknologi (TRL). Jumlah publikasi ilmiah merupakan pertanda bergeraknya roda-roda penelitian sebagai motor kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, serta inovasi sebuah negara.

Capaian itu merupakan program dan kebijakan yang diterapkan Kemenristekdikti, khususnya di dunia penelitian. Salah satu kebijakan yang diharapkan dapat mendongkrak semangat dosen dan peneliti membuat penelitian dan publikasi ilmiah adalah penerbitan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.

Permenristekdikti ini mengamanatkan publikasi ilmiah merupakan salah satu indikator untuk mengevaluasi tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan guru besar. Selain itu, Peraturan Menristekdikti Nomor 44 Tahun 2015 mendorong mahasiswa S2 dan S3 membuat publikasi terindeks global.

Peran berbagai elemen di dunia penelitian baik di perguruan tinggi maupun lembaga penelitian lain sangat dibutuhkan. “Pada akhir 2017 target publikasi ilmiah internasional Indonesia menjadi 15.000 publikasi,” kata Menristekdikti.

Per Selasa pukul 18. 00 WIB, jumlah publikasi Indonesia di Scopus tercatat pada peringkat ketiga di antara negara-negara ASEAN. Urutannya Malaysia mencapai 15.985 dokumen, Singapura mencapai 10.977 dokumen, Indonesia 9.349, dan Thailand 8.204 dokumen.

Hal ini, ujar dia, sangat menggembirakan di tengah persiapan bangsa Indonesia menyambut peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 yang akan berlangsung di Makassar pada 6-13 Agustus 2017. Acara puncaknya berlangsung pada 10 Agustus 2017.

“Semoga pencapaian ranking ke-3 Indonesia pada pertengahan tahun 2017 yang meningkat dibanding peringkat sebelumnya yakni ranking IV pada 2016 membuat para peneliti dan akademisi terpacu menjadikan Indonesia di posisi puncak pada akhir 2019,” ujar dia.

Kami Toko Cat Warna Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…