Mahasiswa UGM membuat alat Glucosaga untuk mengukur gula darah tanpa harus mengambil darah (IST) Mahasiswa UGM membuat alat Glucosaga untuk mengukur gula darah tanpa harus mengambil darah (IST)
Kamis, 3 Agustus 2017 03:22 WIB Mediani Dyah Natalia/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PENELITIAN MAHASISWA
Glucosaga, Alat Ukur Kadar Gula Darah Tanpa Jarum Suntik

Penelitian mahasiswa UGM mengenai alat ukur kadar gula darah

Solopos.com, JOGJA — Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang masih menjadi persoalan kesehatan serius. Penyakit akibat peningkatan kadar gula dalam darah ini diperkirakan akan menjadi penyebab kematian tertinggi ketujuh di dunia pada tahun 2030 mendatang.

Meskipun tidak dapat disembuhkan, diabetes merupakan penyakit yang dapat dikendalikan dengan menjalani pola hidup sehat. Selain itu pemeriksaan secara rutin kadar gula darah penting dilakukan bagi penderita diabetes. Sayangnya, untuk memantau kadar gula dalam darah para diabetasi saat ini tergolong rumit. Pasalnya pemeriksaan kadar gula darah masih membutuhkan tindakan invasif dengan jarum suntik untuk mengambil sampel darah pasien.

Kondisi ini mendorong lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk membuat alat ukur kadar gula darah atau glukometer noninvasif yang diberi nama Glucosaga. Mereka adalah Ayu Rahmawati Kautsar Dieni dari Prodi Teknologi Informasi, Nurul Fajriati Setyaningrum dan Atika Nurul Haniyyah dari Prodi Gizi Kesehatan, serta Abdullah Ibnu Hasan dan Ardi Yusri Hilmi dari Prodi Elektronika dan Instrumentasi. Kelimanya  mengembangkan alat dengan bantuan dana hibah DIKTI yang dikemas dalam Program Kreativitas Mahasiswa 2017 dan berhasil lolos melaju pada PIMNAS 2017 di Makasar .

Mahasiswa UGM membuat alat Glucosaga untuk mengukur gula darah tanpa harus mengambil darah (IST)

Mahasiswa UGM membuat alat Glucosaga untuk mengukur gula darah tanpa harus mengambil darah (IST)

Nurul menyebutkan glukometer yang ada di pasaran umumnya terdiri dari beberapa komponen yang maha. Beberapa di antaranya jarum lancet, lancet device, strip glukosa darah, dan alat glukometer. Pengukuran diawali dengan tindakan invasive berupa penusukan jarum lancet ke jari pasien untuk mengambil sampel darah.

“Terkadang penusukan jarum ke jari pasien memerlukan banyak pengulangan karena sampel darah yang kurang,” ujarnya, Rabu (2/8/2017) di UGM.

Alat yang mereka kembangkan memiliki prosedur penggunaan alat yang cukup sederhana. Langkah pertama, meletakkan sensor pada telinga bagian bawah kemudian menekan tombol start. Selanjutnya, akan langsung dapat terlihat hasil pembacaan kadar glukosa darah yang ditampilkan pada layar LCD.

Ayu menambahkan alat ini juga dilengkapi dengan aplikasi smartphone Glucosaga yang dapat membantu penderita dalam mengetahui riwayat perjalanan penyakit diabetesnya. Data hasil pembacaan kadar glukosa darah dapat dikirim dan disimpan secara berkala pada aplikasi.

Aplikasi Glucosaga juga memiliki fitur-fitur yang dapat membantu pengguna dalam mengatur gaya hidupnya yakni SagaDiary, Reminder, dan Activity Track. SagaDiary digunakan untuk melihat riwayat dari kadar glukosa darah dan riwayat konsumsi kalori maksimal per hari. Reminder berfungsi sebagai pengingat untuk beberapa aktivitas tertentu seperti minum obat, olahraga, dan sebagainya. Sedangkan Activity Track adalah fasilitas untuk menulis segala aktivitas yang dilakukan.

“Kami berharap dapat berpartisipasi aktif dalam mendukung Indonesia lebih mandiri dalam memproduksi alat kesehatan. Untuk saat ini kami masih dalam tahap riset dan pengembangan sehingga bisa masuk ke tahap produksi,”pungkasnya

PT BPR RESTU KLATEN MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…