Unggahan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang justru mengundang keluhan mengenai sistem lima hari sekolah. (Instagram-@ganjarpranowo) Unggahan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang justru mengundang keluhan mengenai sistem lima hari sekolah. (Instagram-@ganjarpranowo)
Kamis, 3 Agustus 2017 06:50 WIB R. Wibisono/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

PENDIDIKAN JATENG
Akun Instagram Gubernur Ganjar Dibanjiri Keluhan Full Day School

Pendidikan di Jateng yang mewajibkan para pelajar menjalani sistem lima hari sekolah atau full day school membuat akun Instagram Gubernur Ganjar dibanjiri keluhan.

Solopos.com, SOLO – Sistem lima hari sekolah atau yang kerap disebut full day school yang sudah diterapkan di beberapa sekolah di Jawa Tengah (Jateng) dikeluhkan sebagian kalangan masyarakat. Di akun Instagram Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Selasa (1/8/2017), warganet yang kebanyakan mengaku sebagai seorang pelajar mengeluhkan sistem pendidikan di Jateng itu yang sejatinya sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23/2017.

Keluhan itu disampaikan warganet kala Ganjar mengajak warganya untuk mengikuti kegiatan lari maraton di Kompleks Taman Lumbini, Borobudur, Magelang, Jateng, 19 November 2017 mendatang. “Lari sambil piknik di Borobudur Marathon,” tulis sang gubernur pada sebuah poster yang ia unggah di akun Instagramnya, @ganjar_pranowo.

Namun kiriman itu justru menuai komentar warganet yang mengeluhkan sistem pendidikan lima hari sekolah yang sudah diterapkan di beberapa sekolah di Jateng. Mereka menganggap sistem itu membuat siswa lelah dan tak memiliki waktu istirahat. “Di sekolah saya banyak tugas pak, waktu tidurnya jadi kurang, sekolah saya jauh di gunung, hawanya dingin, sama aja kalo 5 hari tapi tugas banyak banget,” ungkap pengguna akun Instagram @nnfaizaa_.

“Pergi pagi pulang petang pak. Udah kayak PNS pak. Tadi aja temen saya ada yang sampe ketiduran di angkot pak. Tugasnya banyak banget ternyata pak. Apalagi ada eksul [ekstrakurikuler] di hari Minggu,” tulis pengguna akun Instagram @auliair_.

Tak sedikit juga warganet yang mengeluhkan ekstrakulikuler di sekolah mereka mengharuskan para siswa pulang hingga malam hari. “Belom lagi ikutan eskul [ekstrakurikuler] pak. Isyak baru sampe rumah masyaallahh,” ungkap pengguna akun Instagram @milakookie.

“Sekolah jauh, banyak tugas. Berangkat sunrise pulang sunset,” timpal pengguna akun Instagram @nnfaizaa_.

Padahal, dalam Permendikbud No. 23/2017 Pasal 5 ayat (1), disebutkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan pada hari sekolah. “Hari Sekolah digunakan bagi Peserta Didik untuk melaksanakan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler,” begitu bunyi Pasal 5 ayat 1 pada Permendikbud No. 23/2017.

Meski akun Instagramnya dibanjiri keluhan mengenai sistem pendidikan lima hari sekolah atau yang kerap disebut full day school, Gubenur Jateng itu tak memberikan respons. Pengelola akun @pesona_jawatengah yang menanggapi keluhan itu justru menyarankan warganet untuk menyampaikannya melalui laman Laporgub.jatengprov.go.id atau melalui media sosial Twiiter. (Ginanjar Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Hotel Dinasty, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…