Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Dok) Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Dok)
Kamis, 3 Agustus 2017 20:55 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Pemindahan Pohon Perindang di Terban Masih Dalam Kajian

Pemerintah Kota Jogja, melalui Dinas Perhubungan kemungkinan besar akan tetap mempertahankan sistem dua arah di Jalan Terban

Solopos.com, JOGJA–Pemerintah Kota Jogja, melalui Dinas Perhubungan kemungkinan besar akan tetap mempertahankan sistem dua arah di Jalan Cik Ditiro Terban.

Namun untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, lajur untuk kendaraan yang mengarah ke barat akan ditambah jadi tiga dan sekaligus mengurangi lajur yang menuju ke arah sebaliknya menjadi hanya satu.

Rencana manajemen lalu lintas seperti itu memiliki konsekuensi tersendiri berupa berkurangnya lebar trotoar dan juga hilangnya pohon perindang yang berada ditengah-tengah jalan.

“Ini yang masih masuk dalam kajian, apa pohonnya perlu dipindah atau tidak,” kata Kepala Seksi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dishub Kota Jogja Hary Purwanto saat dihubungi Rabu (2/8/2017).

Hary mengatakan pihaknya hingga saat ini masih menghitung panjang antrean kendaraan yang bergerak dari timur ke barat. Penghitungan dilakukan dengan catatan penambahan lajur hanya dilaksanakan dengan hanya memangkas trotoar.

Jika panjang antrean, terhitung dari Bundaran UGM hingga persimpangan di depan Mirota Kampus 2, lebih dari 100 meter, maka penambahan lajur harus mengorbankan pohon perindang. Jika tidak lebih dari 100 meter, maka pohon tidak akan dipindahkan atau ditebang.

“Berharap antreannya kurang dari 100 meter, karena panjang simpang ke bundaran UGM 132 meter. Pohonnya memang ada kemungkinan dipindah. Hal ini betul-betul kami kaji dan hitung, jangan sampai pohonnya dipindah ternyata antreannya masih panjang,” ucapnya.

Jika nantinya pohon memang harus ditebang atau dipindahkan, imbuhnya, maka Dinas Perhubungan Kota Jogja akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja karena kewenangan ada di DLH.

“Kemungkinan sudah dikomunikasikan [dengan DLH] tapi belum menyodorkan hasil kajian paling akhir. Kalau pun pohonnya harus dihilangkan paling tidak bisa dipindahkan ke tempat lain,” tambahnya.

Hary melanjutkan, perhitungan dilakukan menggunakan sebuah aplikasi di komputer. Jika perhitungan di komputer dirasa sudah cukup baik, barulah kemudian diaplikasikan di dunia nyata. Ia optimis tahun ini pihaknya sudah bisa merampungkan kajian dan menngambil kebijakan manajemen lalu lintas di Jalan Terban.

SD MUHAMMADIYAH PK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…