Pegawai honorer Terminal Tipe A Tirtonadi, Achmad Muhailil Churi, 53, menunjukkan foto-foto pencopet, pencuri, dan penipu yang dia tangkap di seputaran Terminal Tirtonadi Solo. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Pegawai honorer Terminal Tipe A Tirtonadi, Achmad Muhailil Churi, 53, menunjukkan foto-foto pencopet, pencuri, dan penipu yang dia tangkap di seputaran Terminal Tirtonadi Solo. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Kamis, 3 Agustus 2017 15:54 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

Kisah Tragis Penakluk Copet Terminal Tirtonadi Solo Jadi Korban Tabrak Lari

Penakluk copet di Terminal Tirtonadi Solo siap berburu lagi setelah sembuh dari luka akibat tabrak lari.

Solopos.com, SOLO — Tulang rahang kanan Achmad Muhailil Churi, 53, patah di dua bagian. Dia kini kesulitan mengonsumsi makanan normal.

Warga Kampung Margorejo RT 001/RW 011 Kelurahan Gilingan, Banjarsari, tersebut hanya bisa makan bubur atau makanan lain yang dihaluskan. Bahkan untuk bicara pun, dia harus berjuang keras.

Bapak tiga anak itu tidak bisa membuka mulut setelah dokter memasang kawat pada bagian giginya sebagai upaya penyembuhan. Muhailil yang biasa disapa Kholil menderita luka di kepala setelah mengalami kecelakaan di jalanan wilayah Kampung Sendanglo, Simo, Boyolali pada Jumat (28/7/2017) lalu.

Saat itu dia tengah mengendarai sepeda motor bersama rekannya untuk menuju Simo, Boyolali. Di salah satu tikungan, dia berpapasan dengan mobil minibus berwarna putih.

Tidak disangka-sangka, beberapa pipa air yang diangkut mobil tersebut jatuh di depan Kholil. Karena jaraknya sudah terlalu dekat, dia sulit menghindar dan jatuh tersungkur.

Kholil pingsan, sedangkan rekannya sadar tapi terluka parah. Pengemudi mobil yang tak diketahui identitasnya itu kemudian membawa Kholil ke Rumah Sakit (RS) As-Syifa, Sambi, Boyolali.

Namun, saat Kholil ditangani petugas medis, pengemudi mobil tersebut pergi tanpa pamit. Pengemudi mobil itu sempat terekam kamera closed-circuit television (CCTV) RS As-Syifa.

“Saat itu saya merasa rahang kanan tidak enak. Saya terus minta rontgen. Ternyata rahang patah. Baru pada Jumat sore saya minta pulang untuk dirujuk ke RS Kustati Solo,” kata Kholil saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Kamis (3/8/2017) siang.

Setelah menjalani operasi rahang kanan, Kholil tidak bisa langsung pulang. Dia menjalani rawat inap di RS Kustati selama lima hari. Kholil baru pulang pada Selasa (1/8/2017).

Dia dianjurkan dokter beristirahat di rumah minimal lima hari hingga Minggu (6/8/2017). Namun, Kholil mengaku ingin segera kembali bekerja.

Jika memungkinkan, dia ingin berangkat kerja lagi di Terminal Tipe A Tirtonadi mulai Jumat (4/8/2017) ini. Kholil senang bisa melayani masyarakat.

“Saya dapat izin tidak berangkat dari kantor hingga 6 Agustus. Tapi kalau besok [Jumat] bisa masuk, saya mau masuk saja. Nanti kan saya bisa menangkap copet lagi,” ujar Kholil sembari berusaha tertawa.

Tangkap 319 Copet

Kholil yang bekerja sebagai tenaga honorer di Terminal Tirtonadi sejak 1991 tersebut memang terkenal piawai menangkap copet. Sebanyak 319 copet dan penipu di seputaran Terminal Tirtonadi sudah dia tangkap dalam kurung waktu 26 tahun terakhir hingga 2017 ini.

“Tidak tahu kenapa saya bisa tahu itu orang mau mencopet, itu orang mau menipu. Feeling saja. Ya kemampuan ini datangnya dari Allah. Awal saya masuk [jadi pegawai] terminal pada 1991, banyak orang kehilangan barang di masjid. Terus saya pantau saja,” kata dia.

Kholil mengaku bisa membedakan orang yang salat sungguhan dan yang hanya berniat mencuri. Istri Kholil, Sri Suprapti, menceritakan selama Kholil menjalani perawatan di RS Kustati, pengemudi mobil yang mengangkut pipa air tidak juga menampakkan diri.

Dia menyayangkan sikap pengemudi mobil yang tak bertanggung jawab. Sri mengatakan keluarganya sempat mengurus asuransi kecelakaan ke Jasa Raharja, tetapi tidak berhasil.

Menurut dia, Jasa Raharja merasa tidak bertanggung jawab untuk memberikan dana asuransi karena tak ada berita acara peristiwa dari kepolisian. “Keluarga sangat menyayangkan sikap Jasa Raharja. Mudah-mudahan tidak ada lagi kejadian seperti yang dialami bapak [Kholil],” kata dia.

Sri menambahkan jika Jasa Raharja memberi asuransi untuk suaminya akan bisa mengurangi beban biaya perawatan selama di rumah sakit. “Bapak masih kesulitan malam. Lebih banyak mengonsumsi air dicampur madu, buah, atau susu,” jelas Sri.

 

CV. HARAPAN MULIA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…