Seorang pengemis menukarkan uang recehan di minimarket Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jateng. (Facebook.com-Heri Setiawan) Seorang pengemis menukarkan uang recehan di minimarket Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jateng. (Facebook.com-Heri Setiawan)
Kamis, 3 Agustus 2017 13:50 WIB R. Wibisono/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KEMISKINAN KENDAL
Tukarkan Uang di Minimarket, Pengemis di Kendal Jadi Gunjingan

Kemiskinan yang selama ini ditunjukkan seorang pengemis di Kendal menjadi bahan gunjingan setelah ketahuan menukarkan uang di minimarket.

Solopos.com, KENDAL – Seorang pengemis yang menukarkan uang koin di sebuah minimarket di Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah (Jateng) menjadi bahan gunjingan warganet di media sosial Facebook. Gunjingan mengenai pengemis yang menunjukkan kemiskinan di Kabupaten Kendal itu mencuat di grup Facebook Liputan Kendal Terkini, Selasa (1/8/2017).

Gunjingan itu bermula dari sebuah foto pengemis yang diunggah pengguna akun Facebook Heri Setiawan. Potret kemiskinan di Kabupaten Kendal itu lantas berbuah gunjingan tatkala si penggungah foto mengungkapkan jumlah uang koin yang ditukarkan si pengemis di sebuah minimarket di Desa Kebonharjo.

“Kayaknya kok tau lihat ibu iki nang di ngono. Tukar koin 200 ribu nang Alfamart,” ungkap pengguna akun Facebook Heri Setiawan.

Tak pelak warganet lantas menduga jumlah uang yang ditukarkan itu adalah pendapatan si pengemis dalam waktu kurang dari sehari. Selain langsung melontarkan cibiran, sebagian netizen juga merasa iri dengan pendapatan si pengemis. “Saiki pengemis luweh sugih soko dewe, ojo ngai pengemis utwo ngamen, kui conto wong keset kerjo [Sekarang pengemis lebih kaya daripada kita. Jangan memberi pengemis atau pengamen, itu contoh orang yang malas bekerja],” ungkap pengguna akun Facebook Riscind Polepel Togedel.

Saiki okeh wong ngemis gae kerjaan harian, padahal sengdi wei mlah luweh sugeh kro seng menei [Sekarang banyak orang yang menjadikan aktivitas mengemis sebagai mata pencaharian utama. Padahal si pengemis justru lebih kaya dibandingkan dengan yang memberi],” tulis pengguna akun Facebook Shanty Santy Rahmah.

Sementara itu, segelintir netizen lainnya justru merasa iba kepada si pengemis di Kendal itu. Mereka menduga uang Rp200.000 itu adalah hasil mengemisnya dalam beberapa hari. “Sopo tau kui lumpuk an kawet seminggu yang lalu [Siapa yang tahu jika saja itu adalah hasil mengemisnya selama sepekan],” tulis pengguna akun Facebook Ning Rahayuning.

Kebanyakan warganet di grup Facebook Liputan Kendal Terkini yang turut mengomentari foto tersebut menganggap para pengemis sudah tak dapat lagi dianggap sebagai potret kemiskinan di Kendal. Mereka seakan menganggap para pengemis hanyalah pemalas yang ingin mendapatkan penghasilan dengan cara mudah dan cepat. (Ginanjar Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

SD MUHAMMADIYAH PK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…