Bupati Yuni Sukowati (Kanan) mengerjai kepala SKPD saat perayaan Harganas di Dukuh Karas, Desa Puro, Karangmalang, Sragen, Kamis (3/8/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Bupati Yuni Sukowati (Kanan) mengerjai kepala SKPD saat perayaan Harganas di Dukuh Karas, Desa Puro, Karangmalang, Sragen, Kamis (3/8/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Kamis, 3 Agustus 2017 18:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

HARI KELUARGA NASIONAL
Begini Isengnya Bupati Sragen Kerjai Pejabat SKPD

Bupati Sragen sempat mengerjai pejabat yang menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional.

Solopos.com, SRAGEN — Keceriaan dan keriuhan perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) baru terasa saat jarum jam menunjuk pukul 11.45 WIB. Di saat para tamu undangan mulai jenuh dengan rangkaian seremonial menjemukan, beberapa kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) berdiri dan meninggalkan acara.

Namun, masih banyak yang tetap bertahan di tempat duduknya. Suasana itu sudah disadari Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati yang mendapat jatah menutup rangkaian seremonial itu.

Begitu menaiki panggung Yuni, sapaan akrabnya, sudah memamerkan hadiah bagi para pelajar. Trik itu mampu memancing perhatian para siswa. Sejumlah siswa mulai merapat mendekati panggung tempat Yuni berdiri. Yuni juga menyapa pelajar yang berseragam pramuka itu dengan mengajak bertepuk pramuka agar tidak ngantuk.

Yuni juga menggugah para tamu perempuan yang hadir. Mereka diminta berdiri dan menjawab seruan Bupati dengan kata yang ditentukan Yuni. “Kalau saya tanya ibu-ibu jawabnya dua anak cukup,” ujar Yuni.

Cara itu pun ternyata bisa membangkitkan semangat para ibu untuk mendengarkan apa yang disampaikan Bupati. Kaum Adam yang hadir di acara itu pun tak ketinggalan.

“Ayo giliran para bapak berdiri. Para bapak kan suka berdiri. Enaknya jawaban para bapak ini apa ya? Ada usul?” tanya Yuni.

Pertanyaan itu dijawab dengan celetukan sejumlah warga. Mereka ada yang usul suami setia dan satu istri cukup. Ada juga dua istri lebih baik dan seterusnya. “Jawabnya, suami setia dan satu istri cukup. Tidak boleh jawab dua istri cukup. Jari yang diangkat hanya telunjuk,” tutur Yuni.

Para bapak pun berdiri dan mendeklarasikan diri sebagai seorang suami setia dan hanya cukup beristri satu seumur hidup. Hal itu membuat Yuni senang. Belum selesai sampai di situ. Bupati masih ngerjain para bapak lagi.

Yuni meminta perwakilan tiga orang laki-laki naik panggung. Karena tidak ada yang berani maju, Yuni pun asal tunjuk saja. “Pak Tugiyono [Kepala Bappeda Litbang Sragen] itu kayaknya ingin maju. Pak camat juga silakan serta satu tokoh masyarakat,” serunya.

Tugiyono yang disebut namanya pun terpaksa naik panggung. Camat tak ada satu pun yang maju. Yuni pun sampai mengultimatum bila tidak ada camat yang maju akan dipindah lagi.

Camat Kota Sragen, Sumbagyo, akhirnya maju bersama tokoh masyarakat bernama Supardi. “Sekarang, tiga bapak yang di panggung ini silakan buka dompet masing-masing. Kira-kira ada foto istrinya enggak ya?” celoteh Yuni.

Yuni pun memeriksa satu per satu dompet mereka. Ternyata tak satu pun dompet yang berisi foto istri. Mereka pun membuat alasan bermacam-macam. Tugiyono berdalih foto istrinya tidak muat di dompet.

Camat Sragen Kota beralasan hanya ada foto sendiri. Mantan Direktur Utama PD BKK Karangmalang, Supardi, mengaku karena sering ganti dompet sehingga foto istrinya tidak ada.

Setelah puas, Yuni meminta tanggapan mereka tentang bagaimana menjaga ketahanan keluarga. Supardi menyampaikan semakin tua keluarga semakin harmonis. Sumbagyo memilih menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah.

Tugiyono memiliki jawaban berbeda. “Konsep keluarga ideal itu harus saling percaya yang didasari agama. Bukan takut sama istri tetapi takut karena Allah. Sama istri itu menghargai,” ujarnya di hadapan hadirin.

 

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…