Kamis, 3 Agustus 2017 21:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

2.000 Orang Muda Katholik Se-Asia Berkumpul di Jogja dalam The 7th Asian Youth Day

Sekitar 2.000 orang muda Katolik dari 22 negara Asia berkumpul di Jogja pada Rabu (2/8/2017) dan menjadi saksi perhelatan akbar The 7th Asian Youth Day  2017

Solopos.com, JOGJA--Sekitar 2.000 orang muda Katolik dari 22 negara Asia berkumpul di Jogja pada Rabu (2/8/2017) dan menjadi saksi perhelatan akbar The 7th Asian Youth Day  2017. Namun sebelum bertolak ke Jogja, para peserta melaksanakan Days In Dioceses (DID) di sebelas Keuskupan yang ada di Indonesia.

Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengatakan DID, atau yang bisa diterjemahkan menjadi tinggal di Keuskupan , dilaksanakan dengan maksud menunjukkan kepada seluruh peserta bagaimana orang Katolik hidup ditengah-tengah masyarakat yang plural.

DID dilaksanakan pada tanggal 30 Juli hingga 2 Agustus 2017. Selama dua hari para orang muda Katolik dari 22 negara asia tesebut juga tinggal bersama dengan warga yang berasal dari berbagai latar belakang agama.

“Sehingga para pemuda dan pemudi ini punya pengalaman kongkret hidup dalam kemajemukan. Kami mempersiapkan acara ini dengan sungguh-sungguh dengan menyediakan tempat live in yang baik,” ucapnya saat jumpa pers di Jogja Expo Center, Rabu (2/8/2017).

Setelah DID, kemudian acara lanjutan The The 7th Asian Youth Day  2017 adalah Days In Venue yang diselenggarakan pada tanggal 2 Agustus hingga 6 Agustus 2017 di JEC dengan tema pembuka bertajuk Coming Together as Multicultural Asia.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengatakan puluhan penari akan menampilkan tarian khas Nusantara pada hari pembuka Days In Venue, “Hal ini untuk menampilkan berbagai kekayaan budaya, khususnya yang ada di Keuskupan Semarang,” ujarnya.

Tak hanya penampil dari Indonesia saja yang akan mengisi panggung pembuka The 7th Asian Youth Day  2017. Peserta dari Konferensi Uskup Korea Selatan dan Konferensi Uskup India juga akan menampilkan budaya khas mereka.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko menyebut momen tersebut harus digunakan untuk memperkenalkan budaya masing-masing negara dan sekaligus sebagai ajang untuk memperkaya wawasan masing-masing peserta.

Ia berharap lewat penyelenggaraan The 7th Asian Youth Day  2017 para orang muda Katolik di seluruh Asia bisa membangun kebersamaan dan jejaring sehingga bisa bersama-sama menyebarkan sukacita di tempat masing-masing.

Acara perayaan Days In Venue The 7th Asian Youth Day  2017akan dikukuhkan dengan perayaan Ekaristi dengan selebran utama Uskup Youth Desk FABC Kardinal Partick D’Rozario dan diiringi konselebran Ketua Konfederasi Waligereja Indonesia Mgr. Iganitus Suharyo, dan Uskup Keuskupan Agung Semarang.

Rencananya acara akan diresmikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan memukul bende dan memainkan othok-othok.
Mgr. Iganitus Suharyo menyatakan Indonesia dipilih untuk menjadi tuan rumah The 7th Asian Youth Day  2017 karena Indonesia adalah negara istimewa yang terdiri dari berbagai macam suku, bangsa, bahasa, dan agama yang berbeda.

Ia berharap para peserta bisa benar-benar menyerap nilai keberagaman yang ada di Indonesia, “Peserta dari berbagai negara saya harap bisa dapat belajar mengenai perbedaan. Bukan perbedaan yang memecah belah, namun perbedaan yang memperkaya kemanusiaan,” katanya.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…