Sejumlah pekerja sedang mengerjakan proyek relokasi dan pembangunan Kantor Kecamatan Wonosari, Selasa (1/8/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah pekerja sedang mengerjakan proyek relokasi dan pembangunan Kantor Kecamatan Wonosari, Selasa (1/8/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 2 Agustus 2017 18:20 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Sidak ke Proyek, DPRD Gunungkidul Temukan Pengerjaan Lamban

Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gunungkidul menemukan sejumlah proyek yang pengerjaannya lamban

 

Solopos.com, GUNUNGKIDUL—Inspeksi mendadak (sidak) yang dialakukan oleh Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gunungkidul, menemukan sejumlah proyek yang pengerjaannya lamban.

Dikhawatirkan jika waktu pengerjaan mepet, maka hasil pengerjaan tidak akan masimal karena cenderung dikerjakan asal jadi.

Ketua Komisi C DPRD Gunungkidul, Purwanto mengatakan pihaknya kini melakukan pengawasan serius terhadap pengerjaan proyek infrastruktur yang sedang berjalan.

Terlebih terhadap proyek-proyek yang menyerap anggaran besar. “Ada satu proyek yang mengalami keterlambatan dari rencana hingga 6% lebih,” kata dia, Selasa (1/8/2017).

Proyek tersebut merupakan pembangunan dan relokasi Kantor Kecamatan Wonosari yang mengahabiskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp4,31 miliar.

Adanya keterlambatan hingga 6% dari rencana itu menurutnya karena masih kurangnya pekerja di lapangan, serta pengawasan yang kurang ketat.

Tidak jauh berbeda, dalam sidak yang dilakukan bersama dengan 10 anggota komisi C lainnya di lokasi pembangunan Puskesmas Nglipar II. Terdapat keterlambatan sekitar 1,6% dari rencana awal pembangunan. Permasalahan yang dihadapi menurutnya juga sama, yakni kurangnya pekerja dan pengawasan.

Sementara itu saat sidak di lokasi pembangunan Pasar Ngawen, meskipun progres pengerjaan bangunan dinilai bagus. Namun saat dilakukan sidak, hanya terdapat tiga pekerja yang melakukan aktivitas.

“Kami memang memiliki fungsi untuk melakukan pengawasan. Jika tidak dilakukan pengawasan nanti bisa terulang lagi, seperti pembangunan gedung Kantor Dinas Kependuduakan dan Pencatatan sipil (Disdukcapil) yang asal-asalan,” kata dia.

Salah seorang konsultan pengawasan proyek Puskesmas Nglipar II, Dian Permadi mengaku pembangunan proyek memang menemui sejumlah kendala. Kontur tanah yang keras cenderung menyulitkan para pekerja untuk menggali pondasi. Sementara dari rencana awal lokasi juga digeser untuk menyesuaikan dengan kondisi jalan, namun pergeseran itu tidak signifikan.

“Kendalanya itu tanahnya yang agak keras, jadinya memakan waktu [pengerjaan]. Tapi ini harapannya dapat seselesai tepat waktu. Bangunan utama dulu yang kami kejar untuk diselesaikan,” ujarnya.

Terpisah, pelaksana proyek pembangunan Pasar Ngawen, Dwi Suryanto mengkui tidak ada kendala berarti dalam pengerjaan proyek. Hanya saja pihaknya belum bisa optimal karena sejumlah pekerja proyek sedang pulang ke rumah masing-masing yang ada di luar daerah.

Pelaksana, kontraktor asal Semarang itu juga mengakui sempat terdapat sedikit kendala, namun bisa mengatasinya. “Kemarin penerbitan SPK (Surat Perintah Kerja) sempat telat 15 hari. Tapi tidak masalah kami bisa mengengerjakan sesuai progres yang telah direncanakan,” kata Dwi.

CV. HARAPAN MULIA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…