Pemimpin Redaksi Harian Umum Solopos, Suwarmin memberikan penjelasan kepada finalis Putra Putri Solo (PPS) 2017 saat berkunjung ke Griya Solopos, Senin (31/7/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Pemimpin Redaksi Harian Umum Solopos, Suwarmin memberikan penjelasan kepada finalis Putra Putri Solo (PPS) 2017 saat berkunjung ke Griya Solopos, Senin (31/7/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Rabu, 2 Agustus 2017 04:00 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

PUTRA PUTRI SOLO
Finalis PPS 2017 Penasaran Netralitas Media

Finalis Putra-Putri Solo adalah calon publik figur yang nantinya harus bisa muncul ke permukaan.

 Solopos.com, SOLO—Di tengah kunjungannya ke ruang redaksi Harian Umum Solopos, seorang finalis Pemilihan Putra-Putri Solo (PPS) 2017 tiba-tiba membuka kembali isu politik Indonesia saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Dia menceritakan adanya sejumlah media elektronik yang menampilkan hasil hitung cepat dari sejumlah lembaga survei.

“Lembaga-lembaga survei itu menampilkan hasil hitung cepat yang berbeda, berdasarkan pada kecenderungan politiknya masing-masing. Bagaimana Solopos menyikapi hal semacam ini untuk menjadi sebuah berita yang lebih netral?” tanya finalis bernama Latasha.

Redaktur Desk Kota Solo, Yonantha Chandra Permana, menjawab jika ada dinamika yang demikian, Solopos akan menampilkan hasil hitung cepat dari banyak lembaga survei. “Minimal lima lembaga survei dan tentu akan dijelaskan latar belakang lembaga survei tersebut. Untuk berita-berita politik semacam ini, Solopos akan berusaha untuk netral, meskipun menjadi netral itu tidak akan membuat senang semua pihak,” tutur Yonantha.

Diskusi berlanjut pada tema-tema lain tentang pemberitaan. Mereka mengenal lebih dekat tentang Solopos, terutama tentang produksi berita serta mengenal unit bisnis yang dimiliki PT Aksara Solopos. “Unit bisnis di Solopos cukup banyak, tentu profitnya juga banyak. Apakah Solopos juga melaksanakan kegiatan CSR untuk membagi profitnya kepada warga yang kurang mampu misalnya,” tanya finalis lainnya.

Dan pada kesempatan tersebut, Pemimpin Redaksi Solopos, Suwarmin, menjelaskan beberapa contoh kegiatan sosial yang telah dilaksanakan Solopos. Pada Senin (31/7/2017), 20 finalis PPS 2017 mengunjungi Griya Solopos sebagai bagian dari agenda city tour para finalis pada masa pembekalan. “Finalis Putra-Putri Solo adalah calon publik figur yang nantinya harus bisa muncul ke permukaan. Jadi mereka kami perkenalkan dengan industri media, karena mau tidak mau nanti mereka harus berhubungan dengan media saat sudah menjadi publik figur,” kata Ketua Panitia Pemilihan PPS 2017, R.Ay.Febri Hapsari Dipokusumo.

Febri menjelaskan sebelum ke Griya Solopos mereka telah lebih dulu mengunjungi Pasar Gede. “Dari Loji Gandrung, mereka menuju Pasar Gede naik Batik Solo Trans [BST]. Kemudian di Pasar Gede mereka kami minta menemukan tempat-tempat monumental di area pasar .”

Finalis juga dibekali uang saku Rp40.000 untuk berbelanja menu yang sudah ditentukan. Di sana, mereka juga akan mengenal kembali jajanan pasar, kuliner, dan jamu-jamu tradisional khas Solo. Dari Pasar Gede, mereka naik becak menuju Keraton Solo kemudian ke Bank Jateng untuk membuka rekening tabungan. Dari Bank Jateng mereka menuju Roti Ganep dan belajar membuat semar mendem dan klepon. “Ini adalah jajanan Solo yang fenomenal dan Putra Putri Solo harus bisa membuatnya,” kata Febri.

ADMINISTRASI PERKANTORAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Perlindungan Kearifan Lokal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (2/8/2017). Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan peminat tema-tema kebudayaan. Alamat e-mail penulis adalah tundjungsutirto@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan…