Sementara petani membajak sawah dengan sapi, proyek jalan tol di Susukan, Kabupaten Semarang, Jateng digarap alat berat, Senin (31/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra) Sementara petani membajak sawah dengan sapi, proyek jalan tol di Susukan, Kabupaten Semarang, Jateng digarap alat berat, Senin (31/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)
Rabu, 2 Agustus 2017 05:50 WIB JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra Feature Share :

FOTO PERTANIAN SEMARANG
Petani Susukan Masih Bajak Pakai Kerbau

Pertanian Kabupaten Semarang berpola tradisional.

Petani mengolah sawah dengan bajak tradisional di Susukan, Kabupaten Semarang, Jateng, Senin (31/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)

Petani mengolah sawah dengan bajak tradisional di Susukan, Kabupaten Semarang, Jateng, Senin (31/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)

Pertanian lahan basah di Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tak tersentuh mekanisasi. Petani setempat, Senin (31/7/2017), terdokumentasikan Kantor Berita Antara tengah membajak sawah dengan alat bajak tradisional yang digeret kerbau. Kondisi itu menjadi ironi, mengingat tak jauh dari lahan pertanian basah itu tengah disiapkan lahan jalan tol Salatiga-Kartasura yang melibatkan alat-alat berat berupa ekskavator dan truk-truk besar.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

lowongan pekerjaan
KLINIK BERSALIN UTAMA RB. DR. JOHAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…