Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Puspa Perwitasari) Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Puspa Perwitasari)
Rabu, 2 Agustus 2017 19:30 WIB Adib Muttaqin Asfar/JIBI/Solopos Hukum Share :

Novel Baswedan Sebut Sketsa Wajah Pelaku Mirip Salah Satu Foto

Novel Baswedan menilai sketsa wajah terduga pelaku yang diumumkan Kapolri mirip dengan salah satu foto yang pernah dilihatnya.

Solopos.com, SOLO — Penyidik senior KPK Novel Baswedan menanggapi langkah kepolisian yang mengungkap sketsa terduga pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya. Menurutnya, wajah yang tergambar dalam sketsa tersebut mirip dengan foto seseorang yang dia curigai sebagai pelaku.

Hal itu dikatakan Novel dalam sebuah wawancara di Singapura yang ditayangkan dalam program Net16 oleh Net TV, Rabu (2/8/2017). Dalam wawancara khusus itu, Novel mengakui tidak secara langsung melihat wajah si pelaku. Namun, dia menilai sketsa tersebut tak jauh dari foto yang pernah dia terima.

“Saat kejadian itu, saya tidak melihat langsung pelakunya. Saya menerima beberapa foto, dan sketsa itu tak jauh dari fotonya,” kata Novel dalam wawancara tersebut.

Novel juga masih meyakini dugaan keterlibatan pejabat di lingkungan Polri seperti yang pernah diungkapkannya beberapa waktu lalu kepada jurnalis Time. Meski masih dugaan, dia merasa ancaman serupa sudah beberapa kali terjadi terhadap orang-orang di KPK.

“Terkait keterlibatan oknum Polri, perlu diketahui permasalahan ini bukan pertama kali terjadi, tapi sudah beberapa kali. Dan tidak hanya saya pribadi, ancanman terhadap orang KPK sudah terjadi berkali-kali. Dari fakta-fakta itu, ada yang sudah diketahui pelakunya siapa,” kata dia.

Novel menyatakan dirinya mendapatkan informasi dari internal Polri yang menguatkan keyakinannya. “Pemberitahuan itu sangat jelas dan berhubungan dengan bukti-bukti, tingkat keyakinan, saya sangat yakin. Tentu kita ingin ini diungkap. Kalau saya menyampaikan [dugaan itu] ke media, bukan berarti saya ingin mengolok-olok. Cuma saya ingin itu diungkap,” kata dia.

Jika kasus ini tidak diungkap, Novel menyebut tak ada yang bisa diharapkan dalam upaya pemberantasan korupsi. “Siapa yang mau memberantas korupsi, kalau ada dugaan aparat terlibat tidak didalami, tidak diungkap. Kalau negara tidak hadir dalam pemberantasan korupsi, ini berbahaya.”

Sebelumnya, dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (31/7/2017) lalu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan ciri-ciri dalam sketsa ini berbeda dengan empat orang yang pernah diperiksa Polda Metro Jaya terkait kasus ini. Belakangan, keempat orang tersebut tidak terindikasi sebagai pelaku kasus ini.

“Kalau kita lihat, ini agak berbeda dengan empat orang yang sudah diperiksa sebelumnya. Semua saksi menyatakan negatif, mereka bukan pelakunya. Keempat orang ini alibinya tidak ada indikasi,” kata Tito saat itu.

SD MUHAMMADIYAH PK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…