Mbah Rono saat bercerita soal kebencanaan di hadapan siswa siswi BTI, Selasa (1/8/2017). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Mbah Rono saat bercerita soal kebencanaan di hadapan siswa siswi BTI, Selasa (1/8/2017). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 2 Agustus 2017 05:22 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

MITIGASI BENCANA
Mbah Rono : Rawan Tsunami Bukan Berarti Tak Boleh Ditempati

Mitigasi bencana perlu dipersiapkan secara matang

Harianjogja,com, JOGJA — Tenaga Ahli Bidang Kebencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono membenarkan wilayah laut selatan jawa rawan bencana gempa dan tsunami. Namun bukan berarti masyarakat yang tinggal di pesisir harus pindah.

Baca Juga : MITIGASI BENCANA : Rawan Tsunami, Warga Pesisir Selatan Harus Menyesuaikan Diri

Dia menegaskan wilayah rawan bencana bukan tidak boleh ditempati, melainkan masyarakat harus bersahabat dengan bencana. Termasuk pembangunan New Yogykarta Internasional Airport (Nyia) di Kulonprogo. Menurutnya pembangunan bandara di pinggir pantai selatan tidak ada persoalan selama ada perhitungan resiko jika terjadi bencana.

Mbah Rono meyakini rencana pembangunan bandara di wilayah Temon Kulonprogo itu sudah melalui kajian kebencanaan yang matang, terlebih DIY pernah mengalami gempa yang cukup besar pada 1946 dan gempa bumi 2006 lalu.

Jika dibandingkan dengan negara lain, Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ini menambahkan bahwa Indonesia jauh lebih berpengalaman dalam menghadapi bencana. Bahkan Jepang yang disebut-sebut sebagai negara yang paling rawan bencana, kata dia, jauh lebih berpengalaman Indonesia.

Ia memaparkan selama tahun 2000 hingga 2012 lalu telah terjadi 12 gempa bumi di dunia yang menelan korban lebih dari seribu orang. Empat di antaranya terjadi di Indonesia, yakni gempa bumi di Aceh 2004, gempa Nias 2005, gempa Jogja 2006, dan gempa Padang 2009. Bahkan letusan Gunung Merapi yang paling banyak pengusinya dibanding letusan gunung Merapi di negara-nega lain.

“Sebetulnya kita lebih berpengalaman. Hanya kita mau tidak belajar dari pengalaman,” tandas Mbah Rono saat ditemui seusai mengunjungi sekolah Bhinneka Tunggal Ika (BTI) di Jalan Kranggan, Cokrodiningratan, Jetis, Selasa (1/8/2017).

Baca Juga : Soal Sekolah Bhinneka Tunggal Ika, ORI Apresiasi Langkah Pemkot

Dalam kunjungannya ke Yayasan BTI, Surono juga bercerita sekitar setengah jam soal kebencanaan di hadapan puluhan siswa SD, SMP, dan SMA BTI. Ia mengatakan meski Indonesia dikelilingi bencana, namun perlu disyukuri karena bencana meruapakan berkah jika dipahami dengan baik.

Surono datang ke yayasan BTI karena ia meruakan alumi sekolah tersebut pada 1974 silam. Surono mengungkapkan keprihatinannya atas konflik yang terjadi di sekolah almamaternya tersebut. Ia meminta persoalan itu segera diselesaikan tanpa harus mengganggu belajar siswa.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…