Wakil Presiden PT Persis Solo Saestu, Dedy M. Lawe (kiri), memberikan pernyataan terkait sanksi PSSI terhadap Persis dalam jumpa pers di Restoran Adem Ayem, Rabu (2/8/2017). (JIBI/Solopos/Chrisna Chanis Cara)
Rabu, 2 Agustus 2017 20:25 WIB Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos Indonesia Share :

LIGA 2
Dihukum Berat, Persis Solo Ingin Sanksi Dicabut

Liga 2 diwarnai dengan Persis yang mendapat sanksi berlapis.

Solopos.com, SOLO — Persis Solo resmi mengajukan banding terhadap PSSI terkait sanksi berlapis yang diberikan menyusul kericuhan dalam laga di markas PSIR Rembang, Stadion Krida, 16 Juli 2017. Persis menilai Komisi Disiplin (Komdis) PSSI mengabaikan fakta di lapangan sehingga menjatuhkan sanksi yang merugikan Laskar Sambernyawa. Mereka meminta PSSI mencabut sejumlah sanksi yang dibebankan pada tim.

Merujuk keputusan Komdis bernomor 074/L2/SK/KD-PSSI/VII/2017, Persis dikenai denda Rp100 juta, pengurangan tiga poin dan kalah walk out (WO) 0-3 dari PSIR lantaran melanggar pasal 56 kode disiplin PSSI. Hukuman dijatuhkan karena Persis dianggap menolak melanjutkan pertandingan karena takut.

Penilaian itu dibantah keras manajemen Persis dalam jumpa pers di Restoran Adem Ayem, Rabu (2/8/2017). Menurut Wakil Presiden PT Persis Solo Saestu, Dedy M. Lawe, timnya sama sekali tidak pernah menyampaikan takut jika laga terus digelar. Dedy menegaskan timnya hanya mempertimbangkan kondusivitas dan dampak psikologis pemain jika laga PSIR menjamu Persis itu nekat dilanjutkan.

Diketahui, laga tersebut terhenti di menit ke-50 setelah sejumlah suporter tuan rumah memasuki lapangan. Pertandingan kian ricuh karena ada aksi saling lempar batu antara pendukung PSIR dan Persis disertai penjebolan sejumlah pagar stadion.

“Dalam banyak kasus, kondisi seperti itu mestinya [laga] dihentikan untuk ditunda keesokan harinya. Sekarang fair saja, dengan kondisi chaos seperti itu apakah laga masih bisa berlanjut normal?,” terang Dedy.

Dia menyebut denda Rp100 juta hanya bisa dibebankan jika laga terhenti karena ulah tim atau pemain. Menurut Dedy, kejadian di Rembang kemarin adalah force majeure sehingga Persis tidak layak dijatuhi denda. Pihaknya juga menganggap sanksi pengurangan tiga poin dan kalah WO tidak pas karena ada salah tafsir terhadap sejumlah pasal.

“Delapan fakta lapangan dan lima alat bukti sudah kami siapkan. Selama kami terus dizalimi, kami akan melawan,” tukas Dedy.

CEO Persis, Bimo Putranto, mengatakan baru kali ini ada tim yang dihukum sedemikan berat oleh PSSI. Pihaknya mengatakan upaya banding resmi diajukan Selasa (1/8/2017) dan akan diikuti pengiriman berkas kelengkapan banding pada Kamis (3/8/2017). Banding tersebut tak termasuk sanksi laga tanpa penonton yang dijatuhkan PSSI lantaran keributan suporter.

“Kami minta tiga sanksi [denda, pengurangan poin dan kalah WO] dibatalkan. Untuk itu, laga melawan PSIR kemarin mestinya diulang di tempat yang netral [menyelesaikan sisa 40 menit],” ujarnya.

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…