Islam Mitat, mantan istri tentara ISIS (Cnn.com) Islam Mitat, mantan istri tentara ISIS (Cnn.com)
Rabu, 2 Agustus 2017 02:00 WIB Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com Internasional Share :

KISAH TRAGIS
Ngeri! Begini Rasanya Jadi Istri Militan ISIS

Kisah tragis kali ini tentang seorang wanita yang menceritakan pengalaman ngeri menjadi istri militan ISIS.

Solopos.com, RAQQA – Kekejaman kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sangat terkenal di seluruh penjuru dunia. Sudah banyak orang yang mengaku menjadi korban kekejaman mereka. Salah satunya adalah seorang wanita bernama Islam Mitat, 23, yang menjadi istri seorang pria anggota ISIS bernama Ahmed.

Mitan yang berasal dari Maroko menceritakan pengalaman pahit yang dialami selama hidup menjadi istri militan ISIS. Ia yang merupakan mahasiswa dan mantan fashion blogger mengaku sangat trauma mengingat kehidupannya bersama Ahmed. Kisah sedihnya bermula setelah dipaksa pergi ke Suriah oleh sang suami.

Dilansir The Independent, Senin (31/7/2017), Mitat menjalani kehidupan mengerikan bersama Ahmed selama tiga tahun. Kehidupannya yang penuh kebahagiaan mendadak berubah setelah Ahmed bergabung dengan ISIS dan mendesaknya tinggal di Raqqa, Suriah.

Kisah cinta Mitat dan Ahmed berawal dari situs kencan online. Setelah cukup lama berkomunikasi, keduanya memutuskan untuk menikah. Setelah itu, Ahmed mengajaknya pindah ke Turki dengan alasan pekerjaan. Namun, setibanya di Turki ia malah dipaksa pergi ke Suriah secara ilegal. Sayang, tak lama setelah tiba di Suriah, suami Mitat dikabarkan tewas dalam sebuah pertempuran.

Mitat lantas berjuang untuk bertahan hidup dan membesarkan anaknya dengan membangun rumah perlindungan yang diberi nama Inggris Kecil. Ia membangun rumah tersebut bersama dua remaja kembar asal Inggris, Zahra dan Salma Halane. Selain itu, ada juga remaja lain asal London Timur, Inggris yang menetap di rumah itu, yakni Kadiza Sultana Amira Baase dan Shamima Begum. Mereka semua hidup berdampingan bersama beberapa istri tentara ISIS.

Di sana, Mitat mengaku sempat bertemu dengan Sally Jones dari Kent, Inggris yang merupakan teroris paling dicari di dunia. Menurutnya, para militan itu sangat senang membaca pemberitaan tentang kekejaman mereka yang ditulis di situs berita online Inggris. Pada awalnya, hal itu membuat Mitat heran. Namun, lama-kelamaan ia menjadi terbiasa dengan semua hal aneh yang dialaminya selama tinggal di rumah tersebut.

Sepeninggal Ahmed, Mitat menikah dengan militan Jerman-Afghanistan yang membuat hidupnya semakin sengsara. Ia dilarang untuk keluar rumah dan bertemu dengan teman-temannya. Ia lantas memutuskan untuk bercerai dan menikah lagi dengan militan Australia bernama Abu Abdallah Al Afghani.

Setelah menikah, Mitat secara tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang dijadikan budak seks ISIS. Ia melihat para militan ISIS menganiaya wanita itu tanpa belas kasih. Hal itu membuatnya merasa prihatin dan berjuang membebaskan si budak. Sayang, usahanya tak membuahkan hasil apapun. Nasib tragis yang dialami budak itu membuatnya sadar akan bahaya yang mengancam. Ia takut suatu saat dirinya akan berada di posisi yang sama dengan wanita itu.

Mitat semakin sedih kala melihat suaminya bersama militan ISIS lainnya menghabisi nyawa orang-orang yang dianggap sebagai pengkhianat. Mereka membunuh orang-orang itu tanpa ampun dan membiarkan mayat mereka tergeletak begitu saja. Pemandangan itu membuatnya makin sedih, hingga berniat melarikan diri dari Suriah.

“Bayangkan saja, bagaimana rasanya melihat seseorang dibunuh di depan matamu. Darah mengalir di mana-mana. Bahkan, jalanan penuh dengan mayat orang-orang tak berdosa,” ungkap Mitat.

Dilansir Metro, Mitat berhasil selamat dari semua kejadian mengerikan itu. Setelah berjuang sekuat tenaga, ia berhasil melarikan diri dari Suriah dan menetap di Inggris bersama anaknya. Berbekal paspor milik sang suami, ia berhasil keluar dari Suriah dan memulai kehidupan baru di Inggris. 

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…