Sabarudin memijat pasien di rumahnya RT 001/RW 002, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, Senin (31/7/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Sabarudin memijat pasien di rumahnya RT 001/RW 002, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, Senin (31/7/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Rabu, 2 Agustus 2017 13:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KISAH INSPIRATIF
Tukang Pijat Asal Ponorogo 2 Kali Berangkat Haji, Ini Ceritanya

Kisah inspiratif, seorang tukang pijat di Ponorogo sudah dua kali berangkat ibadah haji.

Solopos.com, PONOROGO — Ibadah Haji merupakan Rukun Islam kelima sehingga berangkat haji ke Tanah Suci merupakan dambaan umat Islam. Namun, keberangkatan orang untuk menunaikan ibadah haji kadang tidak dapat disangka-sangka.

Di Ponorogo, ada sepasang suami istri yang tahun ini berangkat ibadah haji yaitu Sabarudin, 61, dan Umpikah, 56. Sabarudin merupakan tukang pijat yang membuka praktik di rumahnya di RT 001/RW 002, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan.

Pasangan ini berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu sejak 2010. Keberangkatan mereka dijadwalkan pada Rabu (2/8/2017).

Sabarudian dan Umpikah yang memiliki dua anak telah merasakan beribadah ke Tanah Suci untuk kali pertama pada 2003. Setelah itu, dengan terus menabung dan mengumpulkan uang, keduanya kembali berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

“Saat pertama kali berangkat haji, saya juga tidak menyangka. Karena saat itu, keuangan keluarga pas-pasan dan anak masih kecil-kecil. Tetapi, setelah ibadah haji alhamdulillah kami tidak pernah merasa kekurangan,” jelas dia saat ditemui di rumahnya, Senin (31/7/2017).

Sabarudin menceritakan modal untuk ibadah haji dikumpulkan dari bekerja sebagai seorang tukang pijat. Koin demi koin ia kumpulkan untuk membiayai perjalanan ibadah haji tersebut.

Menjadi tukang pijat sudah menjadi pekerjaannya sejak tahun 1996. Memijat orang capai dan sakit menjadi ladang rizki dan juga ladang amal baginya. Selain itu, istrinya juga berjualan kecil-kecilan dengan menyediakan kebutuhan pokok di rumah.

Bagi Sabarudin, uang hasil dari memijat sebisa mungkin digunakan untuk kegiatan ibadah dan tidak digunakan untuk kegiatan bersenang-senang. Ia pun tidak pernah mematok tarif kepada siapa saja yang datang untuk dipijit di tempatnya.

Terkadang ada yang memberi uang Rp20.000, terkadang Rp50.000, namun ada pula yang hanya berucap terima kasih semata.

Meski hanya membuka praktik di rumah, pasien Sabarudin banyak yang datang dari hampir seluruh kecamatan di Ponorogo dan Dolopo, Madiun. Banyak orang yang datang ke tempatnya berkali-kali karena cocok dengan pijatannya.

“Saya itu punya prinsip jangan bersenang-senang di atas penderitaan atau kesakitan orang lain. Untuk itu, uang yang diberikan orang yang datang ke sini itu saya gunakan untuk ibadah,” kata dia.

“Saya tidak sampai hati kalau harus melihat yang datang ke sini pada kesakitan. Terus uang yang diberikan digunakan untuk bersenang-senang,” beber dia.

Untuk itu, uang dari para pasien tersebut dikumpulkan untuk berbagai kegiatan ibadah. Sabarudin juga kerap membelikan kitab kepada uuntuk para santri dengan uang tersebut. Biaya ibadah haji dirinya dan istri juga menggunakan uang yang diberikan para pasien.

Selain memijat, Sabarudin juga mengajar di salah satu pondok pesantren di Ponorogo. Bagi dia, mengajar ilmu di pondok pesantren merupakan salah satu bentuk pengabdian.

Sabarudin mengaku memiliki kemampuan memijat secara autodidak. Ia menggunakan insting dan penalaran untuk memijat. Titik-titik mana saja yang harus dipijat harus diketahui.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…