Panen garam di area pertanian garam Desa Kedungmalang, Jepara, Jateng, Kamis (20/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho) Panen garam di area pertanian garam Desa Kedungmalang, Jepara, Jateng, Kamis (20/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho)
Rabu, 2 Agustus 2017 10:15 WIB Asiska Riviyastuti/JIBI/Solopos Solo Share :

Kenaikan Harga Garam Tak Pengaruhi Inflasi Solo Juli 2017

Inflasi Solo pada Juli 2017 hanya 0,10%.

Solopos.com, SOLO — Inflasi Kota Solo selama Juli hanya 0,10% karena dipengaruhi turunnya berbagai harga komoditas pangan. Harga garam yang naik lebih dari tiga kali lipat hanya menyumbang inflasi 0,002% karena bobotnya yang kecil, yakni hanya 0,04%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Solo, R. Bagus Rahmat Susanto, menyampaikan inflasi ini lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan lalu yang mencapai 0,87% maupun Juli tahun lalu 0,62%.

Sumbangan terbesar diberikan oleh kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebanyak 0,43% karena adanya perubahan harga 2,75%. Andil paling banyak disumbang dari transportasi udara sebanyak 0,40% karena mengalami perubahan harga 33,99% sedangkan angkutan antarkota menyumbang 0,03% inflasi karena naik 4,12% sehingga menempati urutan kelima sebagai penyumbang inflasi terbesar.

“Transportasi masih memberi dampak karena Lebaran terjadi pada akhir bulan sehingga kenaikan harga pesawat masih dirasakan di awal Juli karena masih masa arus balik,” ungkap Bagus kepada wartawan, Selasa (1/8/2017).

Kelompok lain memberi sumbangan yang sangat kecil yakni sandang serta makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau masing-masing menyumbang 0,03%, pendidikan, rekreasi dan olahraga menyumbang 0,02%, kesehatan hanya menyumbang 0,01% sedangkan kelompok perumahan cenderung tidak mengalami perubahan harga.

Inflasi Kota Solo bisa ditekan karena adanya penurunan harga dari kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi 2,10% sehingga menghambat inflasi sebanyak 0,42%. Berdasarkan komponen pengeluaran, komponen inti mengalami kenaikan paling tajam, yakni 0,52%.

Komponen volatile atau harga bergejolak mengalami menghambat inflasi 0,42% karena harga turun sedangkan komponen administered price atau harga yang ditetapkan pemerintah cenderung stabil sehingga tidak menyumbang inflasi.

“Garam memang tercatat terus mengalami kenaikan selama beberapa bulan terakhir. Namun karena bobot inflasinya kecil sehingga tidak berpengaruh banyak pada inflasi. Bahkan garam menempati urutan 30-an penyumbang inflasi,” jelasnya.

BPS Solo mencatat dari 10 besar penghambat inflasi, tujuh di antaranya berasal dari kelompok bahan makanan, seperti bawang putih, daging ayam ras, cabai rawit, tomat, petai, cabai merah, dan jagung muda.

Meski dari 363 komoditas yang disurvei mengalami kenaikan harga, yakni 97 komoditas sedangkan yang harganya turun hanya 51 komoditas. Namun karena bobot komoditas yang turun harga tinggi sehingga mampu menekan laju inflasi.

Capaian Juli ini membuat inflasi Solo menjadi 2,94% year to date (ytd) atau tahun kalender sedangkan year on year (yoy) atau dibandingkan tahun lalu, inflasi sebanyak 3,58%. Hasil tersebut cenderung masih bagus karena tidak melebihi target inflasi pemerintah, yakni 4,3%.

Capaian inflasi tersebut juga menempatkan Solo berada di urutan ketiga dari enam kota yang dihitung indeks harga konsumennya (IHK) di Jateng setelah Cilacap dan Kudus yang mengalami deflasi masing-masing 0,44% dan 0,33%.

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…