Hanputro Widyono Hanputro Widyono (Istimewa)
Rabu, 2 Agustus 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Kepada H.B. Jassin

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (31/7/2017). Esai ini karya Hanputro Widyono, editor buku Jassin yang Kemarin (2017) dan  berstatus mahasiswa di Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah hanputrowidyono@gmail.com.

Solopos.com, SOLO–Jassin yang baik, kini zaman sudah banyak berubah. Jumlah koran dan majalah yang memberi ruang bagi kritik atau esai sastra di Indonesia semakin sedikit. Ruang-ruang di media itu lebih sering diisi isu-isu politik, ekonomi, pendidikan, hukum, tapi jarang sastra.

Apalagi setelah satu-satunya majalah sastra, Horison, mengumumkan gulung tikar setahun lalu, Juli 2016. Pembaca sastra tak lagi memiliki rujukan media yang jelas. Paling-paling hanya bisa mengharapkan koran edisi akhir pekan.

Itu pun seringnya hanya memuat cerita pendek dan puisi, sedangkan kritik atau esai sastra mesti bergantian dengan esai seni rupa, seni pertunjukan, atau esai kebudayaan lainnya.

Tak ayal, seperti yang diceritakan J.J. Rizal saat mampir ke Bilik Literasi pada 20 Mei 2017, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin pun hanya berlangganan koran pada hari-hari tertentu. Pilihan hari sudah tentu akan sering dijatuhkan pada Sabtu dan Minggu dengan harapan mendapat kliping perkembangan sastra mutakhir dengan biaya sehemat mungkin.

Jassin, pada akhirnya sastra memang mesti memakai hitung-hitungan ekonomi. Iya, tentu saja saya masih sepakat dengan ucapanmu di Horison, September 1984, ihwal mengurusi dan merawat sastra.

“Kita butuh orang yang punya dedikasi. Kita butuh orang yang merasa bebas dengan dunia yang telah dipilihnya, walaupun sebenarnya dia tidak bebas. Sebagai orang yang kreatif dia membaca, menurunkan naskah—yang pada akhirnya dia pun bisa menciptakan karya-karyanya. Dalam keadaan demikian dia bahagia. Terus terang, ini tak bisa dibeli. Usaha yang dijalankan, hanya bisa berhasil bila ada dedikasi.”

Yang terjadi saat ini sastra tetap harus mengikutkan hitungan untung dan rugi. Media sebagai ruang yang menampung pelbagai karya sastra jelas tak mau rugi. Mereka pun mesti memperhitungkan daya pikat cerita pendek, puisi, atau esai sastra untuk menarik calon pembeli.

Hal ini penting sebab media butuh mempertahankan kondisi keuangannya agar tetap terbit. Yah, dari dulu masalah semacam ini memang sudah wajar terjadi, terutama bagi media-media yang baru muncul. Situasi mutakhir ternyata juga melanda media-media yang berusia tua.

Mereka tengah didera “badai” kehilangan pembaca. Keluarga pelanggan koran dan majalah tiba-tiba saja memutuskan berhenti berlangganan dengan alasan sudah tidak ada yang membaca setelah orang tua meninggal.

Terpaksalah beberapa koran dan majalah kini mempersempit peredarannya, dari media nasional menjadi lokal, demi menghemat pengeluaran. Kepentingan “bertahan hidup” itulah yang kemudian juga berpengaruh pada kebijakan media soal rubrikasi, pengurangan halaman, dan sebagainya.

Ruang untuk iklan jelas tak bisa dikurangi. Kalau ruang sastra, terutama kritik atau esai yang sepi pembaca, bisa dinegosiasikan. Tahu-tahu, pekan depan, pembaca (dan penulis) sudah kehilangan rubrik sastra yang ditunggu-tunggu. Kita juga semakin dijauhkan dari sastra.

Aduh, Jassin, saya tak bermaksud merusak kebahagiaanmu pada peringatan hari lahir yang ke-100. Saya hanya ingin jujur dengan hal-hal yang terasakan dan terpikirkan. Saya ingat betul dengan pesanmu dan dewan juri Sayembara Menulis Roman DKJ 1976, bahwa seni menuntut kewajaran, ketulusan, sincerety.

Semoga kamu tak merasa sedih atau kecewa mendapat kabar ini. Jassin, dulu kamu sering berkirim surat kepada banyak orang, penyair, prosais, esais, penerjemah, tokoh agama, dosen, peneliti dan lain sebagainya. Sekarang surat sudah tidak laku. Apa kamu punya nomor Whatsapp (WA)? Hei, kamu tak usah tertawa gitu dong.

Oh iya, Jassin, meski masih jadi pilihan terakhir, setelah novel, cerita pendek, puisi, dan drama, tampaknya kerja kritik sastra Indonesia masih terus diusahakan ada. Beberapa kelompok, komunitas, atau instansi yang memiliki perhatian lebih pada sastra, merawat gairah kritik sastra lewat jalur sayembara.

Selanjutnya adalah: Siklus penyelenggaraannya agak lama…

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Resmi Meluncur, Ini Spesifikasi Xiaomi Redmi Note 5A

Xiaomi merilis Redmi Note 5A. Solopos.com, SOLO – Xiaomi merilis smartphone teranyarnya dengan harga terjangkau. Redmi Note 5A dengan ukuran dan model yang lebih kecil ketimbang pendahulunya, Redmi 4A dibanderol dengan harga US$91 atau setara Rp1,2 juta. GSM Arena sebagaimana…