Foto ilustrasi: Tidak sedikit pasangan enggan berkomitmen karena sejumlah alasan. (tofugu.com) Foto ilustrasi: Tidak sedikit pasangan enggan berkomitmen karena sejumlah alasan. (tofugu.com)
Selasa, 1 Agustus 2017 00:00 WIB Iskandar Women Share :

TIPS ASMARA
Pacar Enggan Berkomitmen, Ini Penyebabnya

Tips asmara kali ini membahas bagaimana menghadapi kekasih enggan berkomitmen.

Solopos.com, SOLO-Hampir sebagian besar orang yang menjalani pacaran mengharapkan mereka bisa naik ke pelaminan. Sayangnya, tak semua orang bisa dengan mudah diajak berkomitmen alias menikah. Alhasil, mereka menjalani hubungan tanpa arah masa depan yang jelas.

Apa sajakah yang menjadi penyebab orang malas atau enggan diajak berkomitmen? Apakah faktor usia dan lamanya hubungan berpengaruh terhadap kemauan orang berkomitmen?

Menurut salah seorang dosen Fakultas Psikologi UMS, Soleh A. Yahman, ada beberapa penyebab pasangan tak mau atau enggan diajak berkomitmen. Kemungkinan pertama, lanjutnya, pacar yang tak mau diajak menikah meski telah lama pacaran dikarenakan si pria terlalu idealis dan cenderung tidak realistis dalam memandang masalah pernikahan. Bisa jadi pula karena si pria ini tipe pria yang serba menuntut kesempurnaan atau perfeksionis.

“Atau juga karena si pria ini mempunyai kekhawatiran tidak dapat membahagiakan istrinya kelak secara lahir batin. Maka dia menunda-nunda pernikahannya padahal semua sudah siap,” ujar dia kepada Solopos.com, belum lama ini.

Karena itu pihak perempuan perlu memberi deadline sehingga ada tentang arah masa depan hubungan mereka.Kalau tidak segera mau menikah padahal semua hal sudah siap, ujar dia, lebih baik cari yang lain. Laki-laki yang demikian ini, kata dia, cenderung tidak sungguh-sungguh dan tidak berani mengambil risiko.

Dia berpendapat kekasih yang tidak mau berkomitmen, ungkap dia, menandakan dia lemah dan helpless atau tidak berdaya ketika dihadapkan pada realita.

Dosen Fakultas Psikologi UMS lainnya, Taufik Kasturi, mengatakan komitmen kekasih tersebut memang komitmen sebatas pacaran. Menurutnya ada orang yang tak siap untuk menikah. Di dalam Islam orang tidak diperbolehkan pacaran, tapi langsung menikah. Terminologi Islam dan Barat, lanjutnya, jelas bertolak belakang.

Dia mengakui keputusan menikah bukan perkara mudah karena banyak faktor yang memengaruhi. Di antaranya trauma masa lalu, adanya rasa lelah ketika sudah berumur karena sering gagal menjalin pernikahan dan sebagainya.

Secara terpisah salah seorang psikolog di Solo lainnya, Maria Limyati, mengatakan memasuki fase usia dewasa muda yaitu usia 20 tahun-24 tahun, ada dua tugas perkembangan penting yang harus dicapai oleh individu, yaitu pertama dapat hidup mandiri dan kedua membangun keluarga. Hidup mandiri berarti memiliki pekerjaan/karier yang memungkinkan untuk mencukupi kebutuhan hidup diri sendiri maupun kelurga yang akan dibinanya bersama pasangan.

Sedangkan tugas membangun keluarga mencakup menemukan calon pasangan hidup, menikah, dan memiliki anak. Semakin bertambah usia, ujar dia, diharapkan seseorang semakin matang dalam berpikir dan dapat memutuskan semua hal yang berkaitan dengan dirinya secara mandiri.

Memilih pasangan pada tahap usia ini bukan lagi sekadar puppy love atau cinta monyet, tapi seharusnya yang mengarah ke hubungan serius yang dalam jangka panjang akan menjadi calon suami/istri.

Namun ada kalanya, setelah sekian lama menjalin hubungan, tak diikuti dengan komitmen yang lebih serius. Kemungkinan yang terjadi adalah merasa ragu-ragu terhadap calon pasangan, apakah dapat diajak berkomitmen menjadi istri/suami atau tidak? Mungkin juga belum mau diikat dengan komitmen yang serius.

Prinsipnya, ujar dia, menikah adalah sekali seumur hidup dengan tidak mempertimbangkan kemungkinan bercerai. Kemungkinan lainnya pacar tidak atau belum mendapatkan restu dari pihak keluarga. Atau bisa jadi ada trauma masa lalu.

”Misalnya orang tua [kekasih] pernah mengalami perceraian, sehingga membuatnya merasa takut untuk menikah. Karena dia khawatir akan mengalami hal yang sama dan hal ini dianggap sebagai hal menyakitkan,” ujarnya memberikan contoh.

Menyikapi hal ini, dengan mengingat pacaran di usia dewasa muda bukan lagi main-main, kedua pihak hendaknya membicarakan hal ini secara serius. “Langsung saja katakan mau dibawa kemana hubungan kita?”

Bila pasangan tidak menunjukan itikad baik untuk melanjutkan hubungan serius, pertimbangkan kembali apakah hubungan ini masih layak dipertahankan atau tidak? Tentu, kata dia, tidak mudah secara emosional untuk memutuskan hal trsebut, namun faktor emosi (cinta) saja tidak cukup untuk menjaga suatu hubungan.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…