Siswa kelas 1 SDN 01 Karanganyar mendapatkan suntikan imunisasi measles rubella di ruang kelas pada Selasa (1/8/2017). (Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos) Siswa kelas 1 SDN 01 Karanganyar mendapatkan suntikan imunisasi measles rubella di ruang kelas pada Selasa (1/8/2017). (Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos)
Selasa, 1 Agustus 2017 15:40 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

Sejumlah Warga Karanganyar Tolak Imunisasi MR, Ini Alasannya

Penolakan terhadap imunisasi MR terjadi di Karanganyar.

Solopos.com, KARANGANYAR — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, mengungkapkan adanya penolakan dari sejumlah warga di Karanganyar terkait program imunisasi massal Measles Rubella (MR) atau campak rubella yang dilaksanakan Agustus-September 2017.

Kepala DKK Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, menyampaikan perihal sejumlah warga di pinggiran Karanganyar, seperti Tawangmangu, Jatiyoso, Jenawi, Ngargoyoso, Matesih, Karangpandan, dan Karanganyar menolak imunisasi. Menurut Cucuk alasan mereka adalah keyakinan.

Dia menyatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar tidak gentar menghadapi penolakan meskipun sejumlah warga yang menolak itu mengusir secara halus saat didatangi petugas sosialisasi.

“Ada yang langsung menutup pintu saat didatangi petugas. Ya enggak apa-apa. Penolakan dari kelompok-kelompok. Satu desa itu paling hanya 1-2 keluarga saja. Kurang dari satu persen dari total sasaran imunisasi 205.000 orang. Kami tetap waspada,” kata Cucuk saat ditemui wartawan di sela-sela pencanangan imunisasi measles rubella di SDN 01 Karanganyar, Selasa (1/8/2017).

Cucuk menyampaikan akan mendata seluruh warga yang melakukan penolakan terhadap imunisasi measles rubella. Mereka juga akan diminta membuat surat pernyataan. Langkah itu dilakukan mengantisipasi terjadi kemungkinan buruk.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menyampaikan secara tegas imunisasi measles rubella wajib bagi anak usia 9 bulan hingga 15 tahun.

“Wajib! Laporkan detail mana yang menolak. Saya akan temui langsung orang tua itu supaya menyiapkan anak dengan baik. Hanya menggantungkan keyakinan pada Tuhan tanpa ikhtiar itu nonsense,” tutur dia saat memberikan sambutan.

Dia berharap seluruh sekolah mengampanyekan imunisasi measles rubella pada setiap kesempatan. “Jika ingin dicampakkan rubella maka imunisasi. Mari mengingatkan semua pihak agar sadar imunisasi penting. Imunisasi mencegah kemungkinan penyakit, menyiapkan ketahanan tubuh. Apabila menolak, risiko dikembalikan ke yang bersangkutan,” ujar Yuli.

DKK Karanganyar menargetkan imunisasi MR kepada 205.000 anak. Mereka dapat mengakses 2.828 pos pelayanan untuk mendapatkan imunisasi, yaitu 1.598 sekolah dan 1.230 pos pelayanan di 17 kecamatan di Karanganyar.

DKK juga menyiapkan 471 tenaga kesehatan yang terdiri dari 82 supervisor dan 389 vaksinator. Terkait hal itu, DKK sudah membekali tenaga kesehatan dengan sosialisasi dan pelatihan pada Mei lalu.

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…