Para pelajar yang terjaring razia mendapat pembinaan dari petugas Satpol PP Sragen, Selasa (1/8/2017). (Kurniawan/JIBI/Solopos) Para pelajar yang terjaring razia mendapat pembinaan dari petugas Satpol PP Sragen, Selasa (1/8/2017). (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Selasa, 1 Agustus 2017 18:35 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

RAZIA SRAGEN
Dipengaruhi Miras dan Pil Koplo, Pelajar Nekat Tabrak Petugas Satpol PP

Sejumlah pelajar nekat hingga hampir menabrak petugas Satpol PP yang merazia mereka.

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak 20 pelajar dan tiga pengemis gelandangan orang telantar (PGOT) terjaring operasi petugas Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP) Sragen di sejumlah lokasi, Selasa (1/8/2017) siang.

Pelajar tersebut meliputi 17 laki-laki dan tiga perempuan. Mereka dijaring lantaran menongkrong saat jam belajar di sekolah. Saat razia itu dua pelajar kedapatan minum minuman keras (miras) dan diduga mengonsumsi pil koplo.

Dua pelajar tersebut lalu berusaha melarikan diri saat disergap petugas di GOR Diponegoro Sragen. Mereka bergegas mengendarai sepeda motor saat petugas datang dan nekat mengarahkannya ke petugas.

Beruntung personel Satpol PP yang disasar berhasil menghindar dari terjangan sepeda motor. “Tolong ditulis, di GOR Diponegoro kami dapati empat anak. Dua orang di antaranya mendem [mabuk] dan ngoplo [mengonsumsi pil koplo]. Mereka mencoba menabrak anggota saya saat kami kepung. Kalau tidak lompat, anggota saya bisa tertabrak,” ujar Kabid Ketenteraman Ketertiban Masyarakat dan Linmas Satpol PP Sragen, Sugeng Priyono, saat diwawancarai wartawan.

Sugeng menguraikan razia dilakukan mulai dari kawasan Pasar Bunder Sragen lalu ke belakang SMPN Sidoharjo. Di belakang sekolah itu kerap digunakan pelajar untuk menongkrong sehingga membuat masyarakat resah.

“Di belakang SMPN Sidoharjo memang ada laporan masyarakat yang resah dengan banyaknya anak-anak yang sering menongkrong. Makanya tim kami langsung ke lokasi dan mendapati beberapa anak di situ,” kata dia.

Selanjutnya tim Satpol PP bergerak menuju sekitar SMK Dian Kirana Sragen. Di lokasi itu tiga pelajar berhasil dijaring. “Ini adalah kegiatan rutin Satpol PP. Harapan kami sebenarnya zero atau nihil pelanggaran saat razia,” imbuh dia.

Kegiatan serupa, lanjut Sugeng, akan terus digencarkan di waktu-waktu mendatang. Sebanyak 20 pelajar dan tiga PGOT yang terjaring razia lantas dibawa ke maskas Satpol PP Sragen untuk mendapatkan pembinaan.

Para orang tua/wali pelajar-pelajar itu dipanggil untuk ikut menyaksikan pembinaan yang dilakukan petugas. Mereka juga diminta ikut mengawasi anak-anak mereka agar tidak lepas kontrol dan terbawa pergaulan bebas.

Sebelum diizinkan pulang, para pelajar itu diminta menghafal Pancasila dan menyanyikan lagu kebangsaan. Ternyata, sebagian dari mereka tidak hafal butir-butir Pancasila sehingga membuat petugas geregetan.

Salah satu pelajar yang terjaring razia yaitu RA, 16, asal Jetak, Sidoharjo. Siswa kelas XI SMA PGRI Sragen itu digelandang petugas saat kedapatan menongkrong di depan tempat biliar menggunakan seragam sekolah.

Saat petugas memintanya menghafal Pancasila, RA tidak hafal. Setelah diulang beberapa kali pun, RA tetap tidak hafal. “Saya lupa. Dulu sempat hafal. Tapi beberapa tahun ini saya sudah lupa sila Pancasila,” aku dia.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…