Polres Bantul berusaha mengamankan wasit Ridwan Pahala yang memimpin jalannya pertandingan Persiba Bantul melawan PPSM Sakti Magelang di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (24/7/2017).(JIBI/Harian Jogja/Jumali) Polres Bantul berusaha mengamankan wasit Ridwan Pahala yang memimpin jalannya pertandingan Persiba Bantul melawan PPSM Sakti Magelang di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (24/7/2017).(JIBI/Harian Jogja/Jumali)
Selasa, 1 Agustus 2017 22:55 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Indonesia Share :

PERSIBA BANTUL
Ini Kelanjutan Cerita Ricuh Paserbumi dan Satpol PP

Persiba Bantul melawan PSSM Magelang yang digelar pekan lalu sempat ricuh

Solopos.com, BANTUL — Kesalahpahaman yang melibatkan anggota SatPol PP Bantul dengan suporter Paserbumi saat laga Persiba Bantul kontra PSSM Magelang pada, Senin (24/7/2017) lalu berbuntut panjang. Dua orang suporter Persiba yakni Agung Prasetyo (23) warga Padukuhan Beran, Desa Canden Kecamatan Jetis dan Eren Nur Syam (19) warga Kecamatan Pleret babak belur dikeroyok oknum anggota Sat Pol PP Bantul, Selasa (1/8/2017) pagi di Kantor SatPol PP.

Baca Juga : PER$IBA BANTUL : Ricuh, Laskar Sultan Agung Imbang

Menurut keterangan kedua supporter tersebut saat melapor ke Polres Bantul, aksi pengeroyokan terjadi sekitar pukul 10.00 WIB di gudang kantor SatPol PP ketika mereka datang memenuhi panggilan resmi dari SatPol PP untuk mediasi. Eren mengatakan tujuannya datang ke SatPol PP baik yakni ingin menyelesaikan perselisihan yang sempat terjadi saat laga Persiba Bantul dengan PSSM Magelang.

Rombongan yang datangĀ  pada pukul 09.00 WIB disuruh menunggu lantaran baru ada rapat. Setelah beberapa saat, ada anggota SatPol PP perempuan yang mencari dua orang yang berperkara dan meminta mereka untuk masuk ke dalam.

“Saya dan Agung kemudian masuk ke dalam. Tapi sampai di belakang disuruh masuk ke ruang gudang terus dikunci sekitar lima menit”, katanya.

Setelah itu, kata Eren, datang sekitar 10 orang anggota SatPol PP yang kemudian mengeroyok dirinya dan Agung. Eren mengaku jika mereka dipukul dan ditendang hingga mengalami luka lebam pada muka dan dada. Bahkan Eren mengaku sempat diajak duel single. Ia bisa lepas lantaran berteriak minta tolong hingga rekannya Paserbumi yang datang. Tak terima dengan aksi pengeroyokan itu, keduanya lantas melakukan visum ke RSUD Panembahan Senopati dan melaporkan kejadian itu ke Polres Bantul.

Sementara itu, Lurah Paserbumi Rumawan menyebut mediasi terkait kasus salah paham itu sudah selesai pada Senin (31/7/2017) kemarin. Pihaknya bersama SatPol PP sudah melakukan klarifikasi dan semua pihak sudah menerima. Namun pihak SatPol PP meminta dua orang suporter tersebut untuk datang langsung untuk tindak lanjut proses mediasi atau menyelesaikan perselisihan. Namun bukan perdamaian yang mereka dapat malah pengeroyokan.

Atas kasus tersebut, Rumawan sangat menyayangkan tindakan oknum SatPol PP.

“Saya tidak terima dan akan menempuh jalur hukum dan minta dukungan pihak-pihak terkait”, tegasnya.

ADMINISTRASI PERKANTORAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kepada H.B. Jassin

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (31/7/2017). Esai ini karya Hanputro Widyono, editor buku Jassin yang Kemarin (2017) danĀ  berstatus mahasiswa di Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah hanputrowidyono@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Jassin…