Kondisi SD Negeri 1 Gondosari Kudus. (ikelas.com) Kondisi SD Negeri 1 Gondosari Kudus. (ikelas.com)
Selasa, 1 Agustus 2017 09:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PENGANIAYAAN KUDUS
Kasus Kekerasan Siswa SD Terungkap, Dada Korban Ditindih Kursi...

Penganiayaan sadis dilakukanpara siswa SD di Kudus terhadap rekan sekolah mereka.

Solopos.com, KUDUS — Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus, Senin (31/7/2017), mengungkapkan adanya seorang siswa sekolah dasar (SD) negeri di Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah yang menjadi korban penganiayaan rekan-rekan sekolahnya. Ia mengalami kekerasan fisik maupun kekerasan seksual.

Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus, Noor Haniah, di Kudus, Senin, mengungkapkan kasus penganiayaan yang dialami salah seorang siswi SD Negeri 1 Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus, berinisial AL yang masih duduk di kelas IV itu diduga terjadi pada bulan Juli 2017 saat awal masuk sekolah. Pelakunya diduga sejumlah teman sekelasnya sendiri.

Selain mengalami kekerasan fisik, kata dia, korban yang masih berusia delapan tahun itu juga diduga mengalami kekerasan seksual. Untuk memastikan ada tidaknya kekerasan terhadap korban yang berasal dari Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara itu, lanjut dia, sudah dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Daerah Loekmono Hadi untuk mendapatkan visum et repitum.

Ia mengatakan, kasus penganiayaan yang dialami korban bukan hanya dalam bentuk pemukulan, melainkan juga ditindih dadanya menggunakan kursi. Awalnya, kata dia, pelaku meminta dibelikan sesuatu, kemudian menjalar ke aksi kekerasan fisik dalam bentuk tamparan hingga tindakan yang lebih sadis.

Aksi kekerasan yang akhirnya diketahui sejumlah pihak itu, katanya, terjadi pada jam pelajaran sekolah karena diperkirakan terjadi pada pukul 09.00 WIB dengan disaksikan oleh semua siswa di kelas IV. Pelaku penganiayaan itu diduga sembilan anak yang informasinya merupakan geng di kelas tersebut. Dari kesembilan anak yang masuk dalam geng tersebut, katanya, didominasi perempuan—mengingat ketua gengnya pun perempuan.

Hasil penelusuran di lapangan, katanya, diduga kasus kekerasan yang terjadi di sekolah negeri tersebut terjadi sejak korban duduk di kelas III dan baru diketahui saat korban duduk di kelas IV. “Korban kekerasan juga diduga tidak hanya satu siswa, karena para pelaku mengancam jika ada yang melapor ke orang lain,” ujar Noor Haniah.

Saat mengalami kekerasan, katanya, korban sempat meminta pertolongan, namun tak seorang pun teman korban yang membantu melerai atau pun menolongnya. Haniah mengungkapkan, perlindungan yang harus dilakukan JPPA Kudus bukan hanya terhadap korban, melainkan para pelaku juga diberikan perlindungan karena masih anak-anak.

“JPPA yang melakukan pendampingan atas kasus tersebut, juga melakukan assessment terhadap korban, pelaku serta orang tua pelaku,” sambung Noor Haniah.

Terjadinya kasus kekerasan di sekolah tersebut, kata dia, merupakan kelalaian dari guru. Seharusnya, lanjut dia, ketika guru berhalangan bisa meminta bantuan ke guru lain untuk menggantikan tugas mengajar di kelas.

Demi menghindari terulangnya kasus serupa, kata dia, tenaga pendidik harus bekerja ekstra dalam menjalankan tugas sebagai pendidik maupun tugas pengawasan di sekolahnya, karena saat anak berada di sekolah menjadi tanggung jawab guru, sedangkan saat di rumah menjadi tanggung jawab orang tua.

“Guru di sekolah juga harus jeli dengan siswanya, termasuk untuk mendeteksi apakah ada hal-hal yang mencurigakan untuk segera ditindaklanjuti. Sedangkan orang tua juga harus menjalin komunikasi aktif dengan guru,” ujarnya. Atas kejadian tersebut, lanjut dia, keluarga korban melaporkan kasus dugaan kekerasan tersebut ke polisi.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 1 Gondosari Sudiyarto menyangkal adanya kasus penganiayaan yang dialami siswanya, baik itu dalam wujud kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Bahkan, dia mengklaim, selama ini dirinya tidak pernah menjumpai adanya kasus kekerasan di sekolah yang dipimpinnya sebagaimana dituduhkan Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus.

Terkait aktivitas guru pada tanggal 19 Juli 2017, dia mengakui, memang ada rapat sekolah, termasuk guru di kelas IV juga ikut rapat. “Jika ingin mendapatkan jawaban lebih detail soal dugaan adanya kekerasan di SDN 1 Gondosari, silakan menemui Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kudus Joko Susilo,” ujarnya.

Terkait jumlah siswa di kelas IV, katanya, sebanyak 47 siswa. Namun, diakuinya pula, saat ini ada siswa yang pindah sekolah, yakni siswa yang berinisial AL tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kudus Joko Susilo ketika didatangi Kantor Berita Antara ke kantornya dinyatakan sedang tidak ada di tempat. Sedangkan, sambungan telepon selularnya juga tidak aktif. Demikian pula halnya dengan Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning, ketika ditelepon juga belum ada tanggapan.sem

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

CV.TIGA SELARAS BERSAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Subsidi Ruang Publik bagi PKL

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (28/7/2017). Esai ini karya Murtanti J.R., dosen di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah mjanirahayu@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Pada pertengahan Juli lalu Pemerintah Kota Solo…