Tulisan Welcome to Geopark Gunungsewu terpampang di jalur bokong semar di Jalan Jogja-Wonosari, Kecamatan Patuk, Rabu (7/5/2014). (JIBI/ Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah) Tulisan Welcome to Geopark Gunungsewu terpampang di jalur bokong semar di Jalan Jogja-Wonosari, Kecamatan Patuk, Rabu (7/5/2014). (JIBI/ Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah)
Selasa, 1 Agustus 2017 08:55 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

KERUSAKAN LINGKUNGAN
Pegunungan Sewu Kian Kritis

Kerusakan lingkungan terjadi di Ponjong

Solopos.com, JOGJA — Kondisi Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Pegunungan Sewu kian kritis. Belum usai tindakan reklamasi paska-penambangan di kawasan sekitar Pantai Ponjong di Kecamatan Ponjong, titik lainnya kini kembali dieksploitasi. Bukan untuk ditambang, melainkan kali ini oleh investasi besar dalam bidang properti.

Dituturkan oleh Direktur WALHI Yogyakarta Halik Sandera, kehadiran PT Gunung Samudra Tirtomas (GST) di Pantai Seruni, Desa Tepus, kecamatan Tepus menjadi bukti kian kritisnya KBAK Pegunungan Sewu itu. Rencananya, perusahaan properti yang berkantor di Depok, Sleman itu akan membangun sebuah kondotel, villa dan resort di kawasan sekitar bukit karst yang ada di Pantai Seruni.

Kendati saat ini proses pembangunan baru tahap pemaprasan bukit, pihak perusahaan sudah mempromosikan proyek itu kepada publik. Dalam promosinya, mereka menjual properti yang bertajuk South Mountain Paradise itu dengan harga perdana mulai Rp200 jutaan.

Bagi Halik, apa yang dilakukan oleh PT GST itu jelas menambah parah kondisi Pegunungan Sewu. Di pegunungan yang memiliki lebih dari 40.000 bukit karst dan sekitar 119 gua itu, puluhan investor sudah bersiap melakukan eksploitasi.

“Sebut saja misalnya rencana pembangunan Pabrik Semen di Wonogiri yang ditolak warga. Sisa penambangan di Ponjong, dan masih banyak titik lain yang saati ini, lahannya sudah mulai dibebaskan oleh sejumlah investor,” terangnya kepada wartawan, Senin (31/7/2017) di Kantor Walhi Yogyakarta.

Khusus untuk rencana pembangunan kondotel oleh PT GST, ia khawatir, jika dilanjutkan akan merusak ekosistem yang ada di sekitarnya. Mulai dari proses porositas air sungai bawah tanah, hingga bergesernya pola ekosistem fauna di sekitar lokasi.

“Apalagi, di sungai bawah tanah itu ada satwa endemiknya,” cetus Halik.

CV.TIGA SELARAS BERSAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Subsidi Ruang Publik bagi PKL

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (28/7/2017). Esai ini karya Murtanti J.R., dosen di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah mjanirahayu@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Pada pertengahan Juli lalu Pemerintah Kota Solo…