Waduk Botok, Mojodoyong, Kedawung, Sragen, mengering, Selasa (1/8/2017) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos) Waduk Botok, Mojodoyong, Kedawung, Sragen, mengering, Selasa (1/8/2017) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Selasa, 1 Agustus 2017 23:15 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

KEKERINGAN SRAGEN
Waduk-Waduk Mengering, Tanaman Petani Terancam

Kekeringan Sragen, sejumlah waduk mulai mengering dan mengancam kebelanjutan tanaman petani.

Solopos.com, SRAGEN — Waduk-waduk di Kabupaten Sragen mulai mengering menyusul datangnya musim kemarau. Bahkan, Waduk Botok di Mojodoyong, Kecamatan Kedawung, sudah kering total.

Pantauan Solopos.com, Selasa (1/8/2017), air Waduk Botok sudah tidak ada. Dasar waduk sudah kelihatan dan mulai merekah. Menurut penuturan pedagang di dekat waduk, kondisi itu terjadi sejak tiga pekan lalu.

Fenomena keringnya Waduk Botok saat kemarau sudah rutin terjadi. “Sekitar tiga pekan ini kering. Itu sudah rutin. Setiap musim kemarau pasti airnya habis,” ujar Paimin, salah satu pedagang.

Dia menuturkan endapan sedimen di Waduk Botok terbilang sudah cukup parah. Kondisi itu membuat daya tampung waduk menurun signifikan dibandingkan saat kali pertama difungsikan.

Tingginya endapan sedimen itu karena lumpur yang terbawa aliran air sungai masuk waduk. “Air sungai yang masuk warnanya cokelat bercampur lumpur,” kata dia.

Paimin menuturkan air Waduk Botok dimanfaatkan banyak petani di sepanjang aliran irigasinya. Bila air waduk habis, petani harus memutar otak dan bekerja ekstra untuk mendapatkan air dari sumber lain.

Penyusutan air juga terjadi di Waduk Brambang, Wonokerso, Kedawung. Pantauan Solopos.com, Selasa, volume air waduk yang tinggal sedikit dimanfaatkan sejumlah warga untuk memancing ikan di tengah waduk.

Terpisah, Ketua Komisi II DPRD Sragen, Sri Pambudi, saat dimintai tanggapan mengakui daya tampung waduk-waduk di Sragen saat ini sudah berkurang signifikan karena banyaknya sedimen.

Akibatnya persediaan air waduk sangat terbatas dan cepat kering saat musim kemarau. Kondisi tersebut sudah lama terjadi. Akibatnya petani beralih ke sumber air lain saat kemarau.

“Kebijakan eksekutif memprioritaskan pembangunan sumur-sumur dalam sudah tepat. Ini penting bagi petani saat kemarau. Kalau dulu kan anggaran banyak tersedot untuk jalan usaha tani,” tutur dia.

Politikus Partai Golkar tersebut berharap pembangunan sumur-sumur dalam secara bertahap dapat memenuhi kebutuhan air petani. Jangan sampai petani selalu direpotkan dengan kebutuhan air.

“Kalau tidak ada air petani harus bekerja lebih mencari sumber air. Otomatis ini akan membuat biaya tanam, perawatan, hingga panen, membengkak. Kasihan kalau saat panen harganya jatuh,” ujar dia.

Sedangkan Kasi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sragen, Suwito, menuturkan sejauh ini belum ada laporan ihwal ancaman gagal panen padi akibat tidak adanya suplai air musim kemarau ini.

Tapi dia mengakui volume air di sejumlah waduk di Sragen semakin menipis dalam beberapa hari terakhir. “Beberapa waduk masih ada airnya, tapi sedikit. Beberapa yang lain sudah kering,” kata dia.

OMEGA COM SOLO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Subsidi Ruang Publik bagi PKL

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (28/7/2017). Esai ini karya Murtanti J.R., dosen di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah mjanirahayu@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Pada pertengahan Juli lalu Pemerintah Kota Solo…