Petani garam di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, memaksimalkan lahan untuk produkdi garam, Jumat (28/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Kutnadi) Petani garam di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, memaksimalkan lahan untuk produksi garam, Jumat (28/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Kutnadi)
Selasa, 1 Agustus 2017 04:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

Harga Garam Naik Jadi Berkah Nelayan Hanya Hingga Impor Terlaksana

Harga garam yang naik, membawa berkah bagi nelayan, namun hanya hingga impor terlaksana.

Solopos.com, BREBES — Kelangkaan stok garam yang terjadi dua bulan terakhir ini membawa dampak berbeda antara petani garam dan konsumen—termasuk pemilik warung, perajin ikan asin, dan telur asin.

Bagi para perajin ikan asin atau pemilik warung makan, kelangkaan stok garam membuat kehidupan mereka berasa masam. Sudah harganya naik, sulit pula memperolehnya. Bahkan, para perajin ikan asin, terpaksa harus mengurangi jumlah pekerjaan mereka karena kesulitan mendapatkan bahan kebutuhan pokok produksi.

Sebaliknya, bagi para petani garam atau produsen yang berada di pesisir pantai. Kelangkaan bahan kebutuhan pokok dapur itu justru membuat kehidupan berasa manis. Betapa tidak? Harga komoditas yang berasa asin itu naik berlipat ganda dan membuat keuntungan mereka pun berlipat ganda pula.

Sebagaimana dikutip Semarangpos.com dari Kantor Berita Antara, Senin (31/7/2017), bagi para petani garam di kawasan pantai Desa Sawojajar, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), kelangkaan garam ini membawa berkah bagi mereka. Harga garam yang semula Rp500/kg, kini naik hingga Rp4.000/kg.

Maka tidaklah mengherankan bila sejumlah nelayan Sawojajar beralih mata pencaharian. Jika semula mereka mencari ikan di laut, kini mereka memilih banting setir menjadi petani garam. Mereka pun mengaku kecipratan keberuntungan atas kenaikan harga kebutuhan pokok dapur tersebut.

Para nelayan bersyukur terhadap kenaikan harga garam hingga mencapai Rp4.000/kg meski kemungkinan harga bahan bumbu berasa asin itu akan segera stabil kembali. Maklum, pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memutuskan memilih langkah instan impor komoditas tersebut dengan dalih menjaga stabilitas harga garam di pasaran.

Dastam, 52, petani garam Desa Sawojajar Kecamatan Wanasari mengatakan para nelayan kini banting setir menjadi petani garam karena pendapatan yang mereka terima kini lebih menjanjikan seiring dengan melonjaknya harga kelengkapan bumbu dapur tersebut. “Daripada mencari ikan di laut, saat ini bekerja sebagai petani garam lebih menjanjikan dan menguntungkan karena harga bahan baku bumbu dapur itu cukup tinggi,” katanya.

Ia mengatakan bahwa penaikan harga garam hingga Rp4.000/kg setidaknya bisa membantu petani garam untuk mencukupi kebutuhannya. Sebelumnya, bekerja mengolah penggaraman hanya sebagai pekerjaan sampingan. Sebagian besar di antara mereka lebih memilih mencari ikan di laut. Akan tetapi, sekarang ini mereka sementara banting setir menjadi petani garam.

Menurut dia, dengan lahan seluas 1 ha, petani bisa memanen 5 ton garam. Dengan demikian, pendapatan mereka jauh lebih tinggi daripada mencari ikan di laut.

Jika musim dan berangin seperti sekarang ini, ikan besar di pinggiran [laut] tidak ada. Boleh dikatakan air laut sedang dingin sehingga nelayan kesulitan menangkap ikan di pinggiran. Tak pelak, kata dia, hampir sebagian besar nelayan beralih pekerjaan menjadi petani garam.

Ia mengatakan bahwa petani garam akan kembali beralih menjadi nelayan rajungan pada saat memasuki musim hujan. “Lumayan Mas, kini kami menikmati adanya kenaikan harga garam itu meski itu sifatnya sesaat karena kemungkinan harga garam akan stabil setelah pemerintah mengimpor garam,” katanya.

Petani garam hanya berharap kepada pemerintah harga komoditas berasa asin ini tidak turun drastis seperti harga sebelumnya Rp500/kg. “Jika turun, kami berharap kepada pemerintah harga garam masih bisa memperhatikan kepentingan petani garam. Boleh sih turun, tetapi jangan sampai merugikan petani garam,” katanya.

Petani garam Nur Samadikun, 55, mengatakan bahwa pembuatan garam itu lebih mudah, yaitu pertama menampung air laut sekitar sepekan pada petak penampungan hingga terjadi perubahan kondisi air. Air tampungan dialirkan ke petak lain untuk kristalisasi. Satu petak lahan garam bisa dipanen berulang kali. Setiap satu pekan, petani garam dapat memanen garam hingga 10 petak pada lahan sekitar 1 ha.

Penaikan harga garam itu menimbulkan kondisi yang berbeda bagi perajin ikan asin karena mereka terpaksa harus mengurangi produksi dan pekerjanya. Kelangkaan garam di pasaran, tampaknya membuat kalang kabut bagi perajin ikan asin karena mereka kesulitan mendapatkan komoditas bahan baku terasa asin tersebut. Kalaupun ada stok, harganya pun sudah tinggi.

Sebagian besar perajin ikan asin menghentikan aktivitasnya berproduksi ikan asin. “Kami sementara memilih tidak memproduksi ikan asin karena pasokan garam langka. Kalaupun ada, harganya sudah tinggi sehingga tidak seimbang lagi antara pengeluaran dan keuntungan,” kata perajin ikan asin Nasokha.

Kelangkaan garam yang terjadi secara nasional ini membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengimpor bahan campuran memasak itu. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang semula penuh semangat membangun pabrik garam berkualitas tingi pun ikut mengatakan bahwa impor garam tidak bisa dihindari guna memenuhi kebutuhan garam di dalam negeri.

“Impor garam memang tidak bisa dihindari karena produksi garam di Indonesia masih sangat sedikit dan belum banyak pabrik garam di Indonesia,” katanya di Kota Semarang, Minggu (30/7/2017).

Oleh karena itu, Ganjar mendukung jika pemerintah melalui Kementerian Perdagangan melakukan impor garam akibat dari kelangkaan garam. Politikus PDI Perjuangan itu juga berharap pemerintah segera membangun pabrik garam sebagai upaya menjaga keberlanjutan produksi dan terjaminnya kualitas garam.

“Indonesia yang dua pertiganya laut masih impor garam karena kita tidak bisa memproduksi,” ujar mantan anggota DPR itu.

Produksi garam di Jateng pada tahun 2015, misalnya, tercatat 832.000 ton. Akan tetapi, pada tahun 2016, mengalami penurunan di bawah 10% karena musim kemarau basah, sedangkan kebutuhan garam masih luar biasa tingginya. Turunnya produksi garam di Jateng itu berpengaruh kepada permintaan masyarakat dan mengakibatkan ketidakseimbangan permintaan pasar.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

OMEGA COM SOLO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Sejarah ”Pahitnya” Garam Nusantara

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (1/8/2017). Esai ini karya M. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Gonjang-ganjing garam dalam beberapa pekan terakhir masih terasa. Pepatah ”bagai…