Anggota TPIHI Kloter 32, Muh. Fadlan (kanan), mendoakan Hartini, calon haji asal Dukuh Kedungrejo RT 036, Desa Sidodadi, Masaran, Sragen, Senin (31/7/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Anggota TPIHI Kloter 32, Muh. Fadlan (kanan), mendoakan Hartini, calon haji asal Dukuh Kedungrejo RT 036, Desa Sidodadi, Masaran, Sragen, Senin (31/7/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 1 Agustus 2017 05:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

HAJI 2017
Sakit, Calhaj Sragen Batal Berangkat setelah 6 Tahun Menanti

Seorang calhaj asal Sragen batal berangkat tahun ini gara-gara sakit.

Solopos.com, SRAGEN — Mobil warna biru itu berhenti di sebuah gang kecil di Dukuh Kedungrejo RT 036/RW 009, Desa Sidodadi, Kecamatan Masaran, Sragen. Mobil itu dikemudikan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kedawung, Sragen, Muh. Fadlan Sunardi, bersama dua pejabat Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sragen.

Mereka sudah berputar-putar di jalan dukuh itu untuk mencari seorang calon haji (calhaj) yang masuk Kloter 32 atas nama Hartini, 56. Setelah bertanya kepada beberapa warga, mereka berhasil menemukan kediaman Hartini.

Sosok kakek-kakek menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Sugiyo, 65, suami Hartini, menyilakan rombongan Kemenag Sragen itu untuk menjenguk istrinya yang terbaring di kamar. Hartini yang semula tiduran langsung bangkit dan duduk di amben kayu itu.

Hartini hanya bisa menganggukkan kepala saat ditanya terkait dengan identitasnya. Hartini seharusnya berangkat ke Tanah Suci bersama suaminya, Sugiyo, setelah menunggu kurang lebih 6-7 tahun. Pasangan suami istri itu mendaftar ibadah haji pada 2010.

Mereka dijadwalkan berangkat ke Embarkasi Haji Donohudan, Boyolali, pada Minggu (6/8/2017). Namun kondisi Hartini tidak memungkinkan karena sakit yang dideritanya selama setahun terakhir.

“Keberangkatan saya ditunda karena sakit. Saya harus cuci darah setiap pekan karena saya divonis dokter menderita gagal ginjal. Saya hanya bisa berharap berangkat tahun depan,” ujar Hartini saat ditemui wartawan di sela-sela kunjungan para pejabat Kemenag Sragen itu, Senin (31/7/2017).

Hartini merupakan guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu SD negeri di wilayah Tasikmadu, Karanganyar. Sejak menderita sakit, ia sudah tidak mengajar. Ia berencana mengajukan pensiun dini agar tidak terbebani dengan tugas-tugas sekolah.

Sugiyo terpaksa berangkat haji sendirian tahun ini. Ia kemungkinan akan didampingi anak sulungnya. Ia bersama istrinya mengumpulkan uang selama 10 tahun dan bisa terkumpul Rp51 juta untuk mendaftar ibadah haji.

“Sebenarnya tahun lalu bisa tetapi ibu minta agar anak-anak sudah mentas [menikah] semua. Tahun inilah kesempatan kami berangkat bersama tetapi Allah berkehendak lain. Sebenarnya hanya masalah cuci darah itu yang tidak ada fasilitasnya di tempat berhaji,” katanya.

Muh. Fadlan Sunardi yang juga anggota Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kloter 32 menasihati Hartini agar tegar dan sabar meski tidak bisa berangkat haji tahun ini. Fadlan memberi dukungan moral agar Hartini memiliki kekuatan mental untuk menghadapi ujian dari Allah.

“Dengan doa yang kami lantunkan semoga Ibu Hartini lebih sabar dan ikhlas. Kami menekankan kalau niat saja dalam berhaji itu sudah mendapatkan pahala dari Allah. Bukti niatnya, beliau sudah mendaftar dan sudah ikut manasik, bahkan namanya sudah tercantum dalam daftar calon haji dari Sragen,” tuturnya.

Kasi Haji dan Umrah Kantor Kemenag Sragen, Sutopo, menyatakan sampai Senin ada enam calon haji yang batal berangkat karena sakit dan meninggal dunia. Dia memastikan jumlah calon haji yang berangkat tahun ini 1.111 orang yang terbagi di Kloter 32 yang semula 355 orang menjadi 351 orang karena satu orang meninggal dunia dan tiga orang sakit; Kloter 79 sebanyak 331 orang tetapi satu orang sakit; Kloter 80 sebanyak 355 orang tetapi satu orang di antaranya meninggal dunia, dan Kloter 81 sebanyak 76 orang bergabung dengan jemaah haji Klaten.

“Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 15/2016, kesehatan calon haji menjadi syarat utama untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Yang tidak bisa berangkat itu terpaksa ditunda karena syarat kesehatannya tidak terpenuhi,” tambahnya.

 

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…