Suharmi, warga Dukuh Tegalpogung, Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, menunjukkan panci berkerak putih setelah kerap dipakai memasak air sumur, Selasa (1/8/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Suharmi, warga Dukuh Tegalpogung, Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, menunjukkan panci berkerak putih setelah kerap dipakai memasak air sumur, Selasa (1/8/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Selasa, 1 Agustus 2017 22:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

AIR BERSIH KLATEN
Bertahun-Tahun Warga Tlingsing Akrabi Air Sumur Berkapur

Sudah bertahun-tahun warga Tlingsing, Cawas, Klaten, hidup dengan air sumur berkapur dan asin.

Solopos.com, KLATEN – Warga Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Klaten, berharap ada bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi air sumur warga yang berkapur dan asin membuat warga memilih membeli air guna mencukupi kebutuhan konsumsi.

Salah satu warga Dukuh Tegalpogung, Hari, 35, mengatakan air sumur di desanya berkapur sejak puluhan tahun lalu. Ia tak mengetahui penyebab air sumur warga berkapur dan berasa asin.

Saat dimasak air tersebut meninggalkan kerak berwarna putih di dasar panci atau cerek. “Airnya itu berasa asin. Kalau dimasak sampai mendidih itu air yang sebelumnya bening menjadi putih seperti susu. Rata-rata kondisi air sumur warga seperti itu,” kata Hari saat ditemui di rumahnya, Selasa (1/8/2017).

Ia menuturkan kondisi itu terjadi sepanjang musim. Warga pun memilih membeli air bersih lantaran air sumur dinilai tak layak konsumsi.

Satu jeriken berukuran sekitar 25 liter dijual Rp3.000. Warga membeli dari penjual keliling. “Setiap hari ada yang keliling berjualan. Sebelum ada yang berjualan air bersih ya mengonsumsi air sumur. Kalau warga ada yang membeli ada juga yang tetap mengonsumsi air sumur,” katanya.

Soal gangguan kesehatan, ia mengatakan selama ini banyak warga mengeluh memiliki penyakit prostat dan batu ginjal. Dimungkinkan penyakit itu muncul lantaran seringnya mengonsumsi air sumur yang mengandung zat kapur.

Sepanjang pengetahuannya sampai saat ini belum ada penelitian terkait kandungan air sumur di wilayahnya. “Kami sangat berharap sekali jaringan air bersih bisa masuk ke sini seperti pembangunan Pamsimas, ” ungkapnya.

Warga lainnya, Suharmi, 40, mengatakan penjual air bersih keliling kampung di Tlingsing sudah lama ada. Sebelumnya, air bersih dijual warga asal Gunungkidul berkeliling di Desa Tlingsing.

Namun, sekitar satu hingga dua tahun terakhir ada warga setempat yang juga menjual air bersih. Suharmi mengatakan satu jeriken air yang ia beli cukup untuk kebutuhan konsumsi selama tiga hari.

Sementara air sumur dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci. “Seragam sekolah warna putih itu saat dicuci menggunakan air sumur lama-lama dari berwarna putih menjadi kekuningan. Harapan kami jaringan air bersih bisa masuk ke wilayah kami. Di dukuh lain sudah ada program itu,” urai dia.

Kadus I Desa Tlingsing, Bambang Marsidi, mengatakan sebagian besar warga memilih membeli air bersih lantaran kondisi air sumur berkapur. “Kondisi air sumur beragam ada yang bau ada juga yang asin. Namun, rata-rata kondisinya berkapur,” ungkapnya.

Ia menjelaskan setahun terakhir warga Dukuh Krompakan memanfaatkan air bersih dari sumur Pamsimas bantuan pemerintah. Jangkauan air bersih dari sumur itu saat ini dimanfaatkan sekitar 100 keluarga.

Jangkauan itu ditargetkan terus diperluas hingga 300 keluarga. Jumlah total keluarga di Desa Tlingsing sebanyak 1.103 keluarga.

Bambang mengatakan pemerintah desa sudah mengusulkan bantuan pembangunan sumur Pamsimas agar bisa menjangkau warga di dukuh lain. “Baru pengajuan untuk Pamsimas. Soal disetujui atau tidak kami menunggu,” urai dia.

Bambang menambahkan pada kemarau ini belum ada pengajuan bantuan air bersih. Hal itu dilakukan saat kondisi sumur warga mulai mengering.

Camat Cawas, M. Nasir, mengatakan Desa Tlingsing selama ini menjadi salah satu desa rawan krisis air bersih. Selain itu juga Desa Bogor.

“Untuk Desa Cawas dan Balak saat ini sudah masuk jaringan PDAM sehingga tidak terlalu parah. Warga Bogor dan Tlingsing rata-rata membeli air untuk mencukupi kebutuhan air konsumsi,” katanya.

Nasir mengatakan akhir pekan ini pemerintah Kecamatan Cawas menggelar rapat koordinasi dengan pemerintah desa. Dari rapat itu, pemerintah desa bisa memperinci daerah-daerah serta jumlah keluarga yang rawan terkena krisis air bersih.

PT BPR RESTU KLATEN MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kepada H.B. Jassin

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (31/7/2017). Esai ini karya Hanputro Widyono, editor buku Jassin yang Kemarin (2017) dan  berstatus mahasiswa di Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah hanputrowidyono@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Jassin…