Seorang petugas ATCS Dishub DIY memantau kemacetan di Simpang Tiga Prambanan, Sleman melalui CCTV di Ruang ATCS Dishub DIY, Rabu (28/6/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja) Seorang petugas ATCS Dishub DIY memantau kemacetan di Simpang Tiga Prambanan, Sleman melalui CCTV di Ruang ATCS Dishub DIY, Rabu (28/6/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 31 Juli 2017 14:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Perlu Perubahan Pola Pemukiman di Jogja

Kepadatan lalu lintas yang kerap terjadi pada pagi dan sore hari di beberapa ruas jalan di Kota Jogja disebabkan karena meningkatnya jumlah penduduk.

Solopos.com, JOGJA–Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Dwi Ardianta Kurniawan menyampaikan kepadatan lalu lintas yang kerap terjadi pada pagi dan sore hari di beberapa ruas jalan di Kota Jogja disebabkan karena meningkatnya jumlah penduduk.

Meningkatnya jumlah penduduk, kata Dwi membuat daya tampung Kota Jogja semakin terbatas sehingga membuat masyarakat memilih tinggal di pinggiran seperti Sleman dan Bantul. Walau pun tinggal di luar kota, namun mereka tetap berkegiatan di dalam Kota Jogja.

“Untuk mencari penyebabnya perlu ada kajian khusus, kalau ini hanya indikasi. Penyebab kepadatan harian yang kita rasakan setiap pagi dan sore adalah karena pergerakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tinggal jauh dari kota tapi masih berkegiatan di sana seperti bekerja dan mengantarkan anak sekolah,” jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (30/7/2017).

Penyebab lain, menurutnya adalah pergerakan yang dilakukan oleh para mahasiswa perantau, khususnya perantau yang berasal dari kota-kota tetangga seperti Solo, Magelang, dan Klaten. Mereka ini, kata Dwi biasanya pada akhir pekan akan pulang kampung dan kemudian kembali ke Jogja tak lama kemudian sehingga jalan-jalan pun bertambah macet.

Ia mengatakan solusi jangka pendek yang bisa ditempuh oleh Pemerintah Kota Jogja adalah dengan cara manajemen lalu lintas seperti jalan satu arah, misalnya. Cara ini tentu hanya bersifat sementara karena akar permasalahannya belum tuntas.

Untuk solusi jangka panjangnya, Dwi mengatakan yang harus dilakukan adalah merubah secara total pola permukiman dan pola berkegiatan.

“Kalau di negara lain digunakan sebuah konsep, di mana semua kegiatan difasilitasi dalam satu tempat, tidak menyebar, tapi kecenderungannya ke atas. Akan sangat efisien kalau melihat pengalaman di kota lain, tapi akan ada dampak lain. Memang tidak mudah untuk dilaksanakan,” ujarnya.

Hal lain, yang perlu dilakukan, menurutnya adalah pembatasan kendaraan bermotor. Tanpa ada langkah tersebut maka mengatasi kemacetan akan sulit untuk dilaksanakan. Alih-alih membatas kendaraan bermotor, yang ada katanya, saat ini masyarakat malah semakin dipermudah untuk membeli kendaraan bermotor.

“Kebijakan memberikan tanda parkir di jalan seharusnya bisa efektif jika diimplementasikan dengan baik karena itu akan mendorong masyarakat menggunakan kendaraan umum. Tapi kendaraan umum seperti Trans Jogja juga hanya melayani jalur-jalur utama, yang tinggal jauh di Sleman tidak ada jalurnya. Kalau ditambah pun siapa yang akan naik, karena sepertinya penumpangnya terus menurun,” tutupnya.

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…