Sandimin mengamati kondisi sekitar sumur bor di Dusun Geritan, Desa Jendi, Selogiri, Wonogiri, belum lama ini. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Sandimin mengamati kondisi sekitar sumur bor di Dusun Geritan, Desa Jendi, Selogiri, Wonogiri, belum lama ini. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Senin, 31 Juli 2017 22:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

KORUPSI WONOGIRI
Penentuan Lokasi Proyek Sumur Bor Hanya Berdasar Perkiraan

Korupsi Wonogiri, warga menyebut penentuan lokasi proyek sumur bor yang diselidiki Kejari hanya berdasar perkiraan.

Solopos.com, WONOGIRI — Warga membeberkan proyek pembangunan salah satu sumur bor dalam pada 2016 bermasalah sejak awal realisasi. Menurut warga penentuan lokasi sumur hanya berdasar perkiraan.

Seperti diketahui, proyek pembuatan sumur bor dikerjakan di 15 tempat di 10 kecamatan. Solopos.com mengamati tiga sumur di Kecamatan Selogiri dan Kecamatan Wonogiri, beberapa waktu lalu. (Baca juga: Proyek Sumur Bor Berpotensi Rugikan Negara Rp2,7 Miliar, Kejari Turun Tangan)

Tiga objek pengamatan itu masing-masing di Dusun Geritan, Nglenggong, keduanya di Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, dan Dusun Bulusulur, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri. Proyek itu kini sedang disidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonogiri.

Sumur bor di Geritan mangkrak. Letaknya di kebun dekat rumah tak berpenghuni. Bangunan terdiri atas sumur dan bak penampungan setinggi kurang lebih 4 meter.

Warga setempat, Sandimin, mengatakan sumur tersebut mangkrak sejak pertengahan tahun lalu. Dia menyebut pembuatan sumur bor tersebut sejak awal bermasalah. Kala itu pekerja tak mengetahui lokasi mana yang akan dibor.

Pekerja justru bertanya kepada Sandimin dan warga lain lokasi yang diperkirakan terdapat sumber mata air dalam tanah. Setelah berunding pekerja menentukan lokasi pengeboran berdasar perkiraan.

“Bukannya pelaksana proyek harusnya menentukan secara ilmiah. Paling tidak pelaksana proyek punya metode khusus,” kata lelaki berusia 40-an tahun itu saat ditemui Solopos.com, belum lama ini.

Akibatnya, lanjut dia, pekerjaan menemui kendala. Ternyata dalam tanah terdapat batu besar. Pengeboran pun tak bisa dilanjutkan meski belum mendapat mata air.

Informasi yang didapat Sandimin dari pekerja, kedalaman sumur hanya puluhan meter. Padahal, sesuai ketentuan seharusnya kedalaman sumur setidaknya lebih dari 100 meter.

Di sisi lain, warga dusun merasa kasihan dengan pekerja. Mereka mengaku belum menerima upah sehingga tak bisa membeli makanan. Warga kemudian memberi mereka makanan secara sukarela.

“Proyek sumur bor setahu saya harusnya satu paket, ya ada sumurnya, bak penampungan, mesin pompa, dan hasil akhirnya siap dimanfaatkan. Tapi yang ini hanya ada bak penampungan dan sumur yang belum jadi,” imbuh Sandimin. (Baca juga: Proyek Sumur Bor Disidik Kejari, PPK Bungkam)

Kondisi sumur bor di Nglenggong lebih baik. Warga setempat, Slamet, menginformasikan sumur itu berkedalaman lebih dari 100 meter dan berhasil mendapat mata air. Sebelumnya pekerja mengetes dengan menyedot air sehari penuh dan air tidak habis. Sayangnya, hingga kini sumur belum bisa dimanfaatkan.

Kepala Desa (Kades) Jendi, Suharni, berharap pihak terkait secepatnya menyelesaikan proyek sumur bor hingga bisa dimanfaatkan. Menurut dia, warga di Geritan, Nglenggong, dan dusun lain menghadapi masalah air bersih saat kemarau.

Sumur bor di Bulusulur terletak di kebun. Warga sekitar, Sukino, mengatakan pemanfaatan sumur bor di belakang rumahnya itu belum maksimal. Sejak proyek berhenti akhir 2016 lalu sumur hanya dimanfaatkan untuk keperluan sekolah. Warga belum bisa menikmatinya karena air belum bisa dialirkan ke bak penampungan.

CV.TIGA SELARAS BERSAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Masa Depan Keroncong

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (27/7/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, peserta Program Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang sedang menyusun disertasi tentang estetika keroncong karya Gesang. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Festival musik…