Niwang Jati Sasongko (kiri) bersama temannya membuat gelang kopi di rumahnya, Penumping, Solo, Sabtu (29/7/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos) Niwang Jati Sasongko (kiri) bersama temannya membuat gelang kopi di rumahnya, Penumping, Solo, Sabtu (29/7/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos)
Senin, 31 Juli 2017 16:15 WIB Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos Fokus Share :

KISAH INSPIRATIF
Pemuda Solo Bikin Gelang dan Tasbih dari Biji Kopi

Kisah inspiratif ini tentang usaha pembuatan gelang dan tasbih dari biji kopi.

Solopos.com, SOLO — Seorang pemuda warga Solo berkreasi membuat kerajinan gelang dan tasbih dari biji kopi. Pemuda bernama Niwang Jati Sasongko, 28, warga Penumping, Laweyan, Solo, itu kini bisa membukukan omzet minimal sekitar Rp7 juta per bulan.

Saat dijumpai Koran Solo/JIBI di rumahnya, Sabtu (29/7/2017), Niwang mengatakan pembuatan gelang kopi tersebut terinspirasi dari oleh-oleh gelang kopi dari temannya yang pulang dari Brasil pada 2014 lalu. Menurutnya aksesoris tesebut belum banyak dibuat di Indonesia. Sementara ada beberapa daerah penghasil kopi di Indonesia.

Pada 2015 akhir, dia pun memutuskan untuk membuat aksesori tersebut untuk dijual. Dia mendatangkan kopi dari daerah Temanggung. “Kopi yang kami gunakan adalah arabika. Alasannya aroma kopi jenis ini lebih keluar. Untuk robusta, bentuknya sebenarnya lebih bagus tapi aromanya kurang,” kata dia.

Biji kopi yang digunakan berwarna kecokelatan setelah melalui proses roasting atau sangrai. Biji-biji kopi yang sebelumnya sudah dilubangi bagian tengahnya tersebut dipilah, dibuat berpasangan dengan ukuran yang sama. Setelah dipilah, biji kopi dirangkai dengan senar hingga membentuk sebuah gelang. Dia membuat gelang kopi bersama teman-temannya.

“Kopi ini kan sudah melalui proses roasting, sehingga aromanya keluar,” kata dia.

Setelah gelang kopi diproduksi, dia mengaku mendapatkan respons baik dari teman-temannya. “Penjualannya pun bagus. Mungkin karena unik. Selain gelang, kami juga memproduksi dalam bentuk tasbih,” kata dia.

Dalam sehari saat ini dirinya dapat menjual rata-rata 10 buah gelang atau tasbih kopi. Namun dia mengaku dalam sebulan pernah memproduksi hingga 1.200 buah.

Niwang mengaku tidak pernah menyetok barang. Pembuatan dilakukan setelah ada pemesanan. “Hal ini kami lakukan agar produk yang kami buat selalu dalam kondisi baru. Kami tidak menyetok barang karena khawatir aroma kopi berkurang,” kata dia.

Satu buah gelang dia jual dengan harga antara Rp30.000-Rp50.000. Sementara untuk tasbih dijual dengan harga Rp75.000.

Untuk penjualan produk tersebut, dia melakukan secara online. Namun pembeli dapat menemukannya di beberapa kedai kopi di Solo. Dia mengatakan banyak pembeli gelang kopi dari luar solo.

“Mulai dari Lampung, Semarang, Surabaya dan Jakarta. Tahun ini Kopi Bracelet milik Niwang juga menjadi salah satu peserta Inacraft dari Solo,” ungkap dia.

Setiap pembelian produk, pembeli juga akan mendapatkan tips untuk merawat produk tersebut. Menurut Niwang, gelang kopi itu sebaiknya jangan sampai terkena air. Selain itu, saat tidak dikenakan, gelang atau tasbih kopi dapat disimpan pada plastik yang sudah diberi serbuk kopi.”

Kopi sifatnya menyerap bau. Setelah itu [menyerap bau], aroma kopi hilang dan menjadi netral. Untuk memulihkan aromanya, bisa  ditaruh di serbuk kopi yang sudah disangrai,” kata dia.

lowongan kerja
lowongan kerja sopir dan karyawati toko, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Masa Depan Keroncong

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (27/7/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, peserta Program Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang sedang menyusun disertasi tentang estetika keroncong karya Gesang. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Festival musik…