Outlet elektronik Electronic Solution di Hartono Mall sudah mulai beroperasi, Kamis (15/6/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Outlet elektronik Electronic Solution di Hartono Mall sudah mulai beroperasi, Kamis (15/6/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 31 Juli 2017 14:55 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Di Jogja, Sejumlah Tenant Kosong, Mall Selektif Pilih Produk

Semakin banyaknya mal di Jogja yang tumbuh, diharapkan pengelola untuk dapat lebih kreatif dalam menentukan tenant yang akan dibuka

Solopos.com, JOGJA-Semakin banyaknya mall di Jogja yang tumbuh, diharapkan pengelola untuk dapat lebih kreatif dalam menentukan tenant yang akan dibuka. Hal itu menyusul banyaknya mall di Jakarta yang jumlah tenant tidak terpenuhi.

“Sebetulnya mall di Jakarta tidak banyak tenant yang kosong. Karena beberapa mall [mungkin] dari awal kurang mendapatkan respon yang diharapkan, baik dari penyewa maupun pembeli. Bisa jadi karena salah konsep atau lokasi yang tidak tepat,” ujar Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY, Djoko Tjatur kepada Harianjogja.com, Jumat (28/7/2017).

Sedangkan di Jogja, kata Tjatur, mal yang beroperasi saat ini menunjukkan pertumbuhan yang baik. Kendati masih ada beberapa mall yang belum terpenuhi keterisian tenantnya. Namun demikian, kata Tjatur, hal tersebut bukan berarti mall tersebut tidak diminati.

“Ke depan masing-masing mall harus lebih kreatif dan harus dapat mengantisipasi tumbuhnya mall-mall baru,” imbuh Tjatur.

Bicara tentang shopping mall, lanjut Tjatur, hal itu erat kaitannya dengan tren gaya hidup. Hal itu tidak terlepas dari daya beli masyarakat sebagai konsumen. Tjatur mengungkapkan faktor tersebut juga menjadi penentu segmen pasar yang dituju setiap mal.

Hal itu juga penting untuk menentukan produk yang akan dihadirkan masing-masing mal untuk segmen pasar yang dibidik. Tjatur menambahkan kesulitan tidak hanya dalam menentukan produk, tetapi harga dan posisi tawar sebuah mal juga sangat menentukan.

“Tergantung pada masing-masing mal, apakah produk yang dipilih nanti cocok dibawa masuk dan mampu diserap konsumen atau tidak. Walaupun produk di mal itu hampir sama, tetapi belum tentu cocok dengan mal yang lain,” jelas Tjatur.

Marketing Communications Hartono Mall, Leo Wauran mengakui mal yang termasuk terbesar di DIY ini juga masih memiliki tenant yang kosong. Namun, hal itu lebih karena Hartono Mall masih merupakan mall baru di Jogja. Leo tak menampik, lesunya perekonomian turut memengaruhi investor atau brand yang akan membuka gerainya di mall.

“Kalau kondisi ekonomi tetap ada pengaruhnya terhadap tenant-tenant. Sekarang brand yang akan membuka tenant lebih berhati-hati untuk ekspansi,” ungkap Leo.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…