Salah satu layang-layang peserta Festival Layang-Layang 2015 berbentuk kadal terbangtengah beraksi di Pantai Parangkusumo, Minggu (9/8/2015) siang. (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto). Salah satu layang-layang peserta Festival Layang-Layang 2015 berbentuk kadal terbangtengah beraksi di Pantai Parangkusumo, Minggu (9/8/2015) siang. (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto).
Senin, 31 Juli 2017 06:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

2 Festival Layang-Layang Digelar dalam Jangka 2 Minggu

Dekatnya waktu penyelenggaraan festival layang-layang Bantul Kite Festival 2017 dengan penyelenggara yang berbeda yaitu Dinas Pariwisata DIY dan Dinas Pariwisata Bantul akan dievaluasi

Solopos.com, BANTUL–Dekatnya waktu penyelenggaraan festival layang-layang Bantul Kite Festival 2017 dengan penyelenggara yang berbeda yaitu Dinas Pariwisata DIY dan Dinas Pariwisata Bantul akan dievaluasi. Pasalnya dengan perbedaan waktu hanya dua minggu, berpengaruh pada tingkat ketertarikan wisatawan untuk datang menonton.

Hal tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Hadi Prabowo. Menurutnya, meski pihaknya tak menarget jumlah kunjungan wisatawan namun ia menyebut dekatnya waktu antara dua festival yang sama pasti ada pengaruhnya.

Wisatawan akan berpikir festival layang-layang ini terlalu sering dilangsungkan sehingga daya tariknya bisa menurun. “Kalau dua, tiga atau enam bulan kan pas. Akan dievaluasi [penyelenggaraan yang berdekatan],” katanya pada Minggu (30/7/2017).

Kwintarto menambahkan kegiatan seperti festival layang-layang ini dimaksudkan sebagai atraksi wisata minat khusus yang dapat memberikan kesan lebih mendalam pada wisatawan. Sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pantai saja, namun ada hal baru yang dapat dinikmati.

Ia juga berharap dengan banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, dapat menjadi alternatif atraksi wisata yang selama ini sudah ada. Harapannya wisatawan tidak bosan karena datang hanya untuk mengambil gambar kemudian pulang. “Target kami di luar jumlah, jadi lebih ke target memuaskan pengunjung,” ucapnya.

Namun Kwintarto tak menampik meningkatnya kunjungan wisatawan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan ekonomi masyarakat setempat yang bergantung pada sektor pariwisata.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinpar Bantul, Bangun Rahina. Ia berharap dengan diselengarakannya festival ini, perekonomian masyarakat setempat dapat terangkat. Peluang-peluang usaha baru dapat terbuka. “Seperti persewaan layang-layang,” ujarnya.

KSP ARTHA MULIA CABANG KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Masa Depan Keroncong

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (27/7/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, peserta Program Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang sedang menyusun disertasi tentang estetika keroncong karya Gesang. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Festival musik…