Seorang warga yang berasal Surabaya tengah berfoto di spot tampir, salah satu spot andalan di Taman Bambu Kuning, Waduk Sermo, Kulonprogo, Jumat (28/7/2017). ( I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja) Seorang warga yang berasal Surabaya tengah berfoto di spot tampir, salah satu spot andalan di Taman Bambu Kuning, Waduk Sermo, Kulonprogo, Jumat (28/7/2017). ( I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 30 Juli 2017 13:22 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

WISATA KULONPROGO
Menunggu Untuk Berfoto di Taman Bambu Kuning

Wisata Kulonprogo di area Waduk Sermo

Solopos.com, KULONPROGO — Penemuan media sosial oleh umat manusia, terutama Facebook dan disusul oleh Instagram, membuat sebagian orang di seantero dunia merasa perlu untuk senantiasa menghasilkan foto-foto yang enak dipandang. Menghasilkan foto yang instagramable menjadi semacam kebutuhan, seperti seorang penulis yang selalu membutuhkan nutrisi otak berupa bacaan yang berkualitas.
Dan hal ini dicium dengan sangat baik oleh para pelaku pariwisata dengan menyediakan berbagai macam taman spot foto. Contohnya saja di Waduk Sermo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Di sana ada beberapa spot foto, sebut saja Taman Akar liar, Bambu Air, Taman Spot Munggur dan Taman Bambu Kuning.

Pada hari Jumat (28/7/2017), Harianjogja.com menyambangi satu di antaranya yaitu Taman Bambu Kuning. Kalau ditempuh menggunakan sepeda motor, Taman Bambu Kuning bisa dijangkau dalam waktu kurang lebih 30 menit dari Kota Wates. Tempatnya berada di tepian Waduk Sermo dan dipenuhi oleh pohon kelapa. Sebenarnya disana tidak benar-benar ada taman bamboo, apalagi bambu kuning.

Saat Harian Jogja sampai di Taman Bambu Kuning, keadaannya sepi. Hanya ada satu mobil jenis Pick Up warna hitam termangu di tempat parkir. Sementara si pemilik mobil entah kemana. Pintu masuk Taman Bambu Kuning sendiri terkunci ditinggal menunaikan ibadah sholat oleh para karyawannya.

Barulah diketahui, ternyata si pemilik kendaraan sudah masuk secara ‘paksa’ ke areal Taman Bambu Kuning dengan cara melompati pagar samping. Pagarnya yang terbuat dari bambu dan bertinggi tidak lebih dari satu meter memang terlalu mudah dilompati.

Tapi si pemilik mobil yang tak bernama, karena tak mau disebutkan namanya, kembali lagi ke parkiran dan duduk manis di loket tiket karena tidak bisa berpose di spot tampir (dinamai tampir karena berbentuk bundar) yang berada diketinggian sekitar tiga meter dari tanah. Pasalnya untuk bisa berpose di spot itu, harus lewat pintu yang berada di tengah-tengah bundaran. Dan itu terkunci.

Tentu si pemilik kendaraan yang mengaku berasal dari Surabaya itu tidak hendak berbuat curang, mungkin ia hanya ingin meninjau lokasi saja. Didorong atas tekad yang kuat untuk menghasilkan foto yang bisa meraup banyak like dari followernya, maka ia bersedia menunggu. “Ditunggu dong, rugi jauh-jauh sudah ke Jogja,” ucapnya.

Sekilas ia sempat memuji keadaan di Waduk Sermo. Ia mengatakan di daerah Malang ada waduk yang mirip seperti di Waduk Sermo, tapi tidak dilengkapi dengan spot-spot foto menarik, “Ini keren. Anehnya di sini juga ngga banyak orang jualan jadi asri,” ucapnya kepada anak buahnya yang berdiri didepannya.

Namun sebenarnya ia ke Jogja tidak dalam rangka berwisata. Menurut Dwi, anak buahnya yang merupakan warga Jogja, mereka hanya hanya kebetulan lewat. Yang menjadi tujuan utamanya adalah meninjau kandang ayam di daerah Sebatang. Kata si Dwi, si pemilik mobil adalah bosnya di sebuah perusahaan peternak ayam di Surabaya.

Setelah menunggu kurang lebih selama 40 menit, akhirnya karyawan Taman Bambu Kuning datang satu per satu. Langsung saja si pemilik mobil diajak turun ke areal Taman Bambu Kuning. Baru kemudian diajak naik ke spot tampir. Tapi sebelum naik harus dipasang alat pengaman dulu biar aman.

Si pemilik mobil tak menyia-nyiakan waktu, apalagi hari sedang panas-panasnya. Beragam pose ia coba. Mulai dari menyamping, membelakangi kamera, duduk, hingga meloncat. Yang ditonjolkan tentu panorama Waduk Sermo dengan perbukitan yang mengelilinginya. Semua dilakukan supaya bisa menghasilkan foto yang ciamik. Sementara si karyawan Taman Bambu Kuning sibuk memotret dari kursi kuning yang bentuknya seperti tempat mangkal para penjaga pantai.

Tak lebih dari 10 menit, sesi foto pun usai. Uang yang harus dibayarkan sangat terjangkau. Cukup Rp5.000 saja. Setelah itu si pemilik mobil langsung ngacir. Di Taman Bambu Kuning sendiri ada dua spot foto lainnya, yaitu spot love dan spot Anjung Rumah Bambu. Spot Love harganya lebih mahal sedikit yaitu Rp7.500.

Salah satu pekerja di Taman Bambu Kuning yang bernama Susanti mengatakan spot yang paling banyak di pakai wisatawan adalah spot love dan spot tampir. Ia menceritakan Taman Bambu Kuning mulai dibangun sekitar 7 bulan yang lalu dan terhitung sebagai anak baru disbanding yang lainnya.

Ia mengatakan tempat itu dinamai Taman Bambu Kuning karena pada awal pembangunan di area depan ditanami bambu kuning, dan pagarnya juga dari bambu kuning. Tapi sayang bambu kuningnya mati. “Yang punya ini adalah kelompok masyarakat. Saya enggak tahu apa nama kelompoknya. Saya hanya pekerja,” jelasnya.

Menurutnya, alasan kenapa Taman Bambu Kuning di buat meski sudah ada banyak spot foto lain di Waduk Sermo adalah karena bosnya berpikir untuk menyediakan tempat foto alternative supaya wisatawan yang gagal berfoto di Kali Biru tidak kecewa, “Selain itu untuk memberdayakan masyarakat sekitar juga. Supaya ada tambahan penghasilan,” tutupnya.

Tenaga Berpengalaman Untuk Biro Haji dan Umroh Plus, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Memahami Perppu Ormas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (26/7/2017). Esai ini karya M. Dian Nafi’, pengasuh pesantren khusus mahasiswa Al-Mu’ayyad di Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo dan aktif di komunitas perdamaian lintas iman dan lintas golongan. Alamat e-mail penulis adalah mdn4fi@yahoo.com. Solopos.com,…