Petugas di salah satu kandang peternakan ayam petelur di Ngemplak, Sleman, memberi pakan untuk ayam-ayam, Rabu (3/2/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Petugas di salah satu kandang peternakan ayam petelur di Ngemplak, Sleman, memberi pakan untuk ayam-ayam, Rabu (3/2/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 30 Juli 2017 17:20 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Permintaan Telur Meningkat, Ayam Semakin Tereksploitasi

Tingginya permintaan masyarakat terhadap telur ayam kerap tak diikuti dengan perhatian produsen terhadap kondisi ayam petelur yang diternaknya
Solopos.com, JOGJA--Tingginya permintaan masyarakat terhadap telur ayam kerap tak diikuti dengan perhatian produsen terhadap kondisi ayam petelur yang diternaknya.

Penggunaan kandang baterai untuk keperluan intensifikasi produksi dinilai sebagai salah satu bukti perilaku eksploitatif terhadap ayam-ayam petelur.

Hal itu disampaikan Angelina Pane, Manager Programs Animal Friends Jogja (AFJ) saat ditemui di Dapur Vegetarian Milas, Sabtu (29/7/2017). Dikatakannya, dengan posisi Indonesia sebagai negara peringkat ketujuh produsen telur terbesar di dunia dengan angka produksi rata-rata mencapai 1,22 triliun kilogram per tahun, maka perilaku produsen terhadap ayam petelur pun cenderung semakin eksploitatif. “Salah satunya adalah penggunaan kandang baterai yang tidak ramah satwa,” akunya.

Dari data statistik Kementerian Pertanian tahun 2015, populasi ayam petelur di 34 provinsi di Indonesia berjumlah 151.419.000 ekor, angka pertumbuhan populasi dari tahun 2014 adalah sebesar 3,42 %.

“Mayoritas dari ratusan juta ekor ayam petelur di Indonesia ini dipelihara di dalam kandang baterai yang sempit demi intensifikasi produksi,” tambahnya.

Di beberapa negara, khususnya negara berkembang, tambah Angelina, para pegiat perlindungan satwa sudah lebih dulu gencar meningkatkan perhatian mereka ke sektor ayam petelur dan pedaging. Sementara di Indonesia, fokus perlindungan satwa memang kebanyakan masih sebatas pada jenis satwa-satwa liar saja.

Padahal, dari data yang ia miliki, secara global, manusia menernak sekitar 77 miliar hewan darat untuk dimanfaatkan telur, daging dan susunya. Acap kali, hewan-hewan itu diternak dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi dan tidak memperhatikan kesejahteraan mereka. “Parahnya,  sekitar 67 miliar di antaranya adalah ayam,” tegasnya.

Itulah sebabnya, saat ini memang perlu digencarkan kampanye penggunaan sistem non-kandang baterai (bebas kandang), khususnya untuk ayam petelur.  Untuk itu, pihaknya kini tengah berupaya mendata semua konsumen telur ayam yang memilih untuk mendapatkan telur dari peternakan yang produksinya tidak menggunakan sistem kandang baterai yang kejam.

Hal ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa semakin banyak restoran, warung, toko roti, dan konsumen telur lainnya yang sudah menggunakan telur ayam bebas kandang.

Selain itu, pihaknya kini juga tengah mendata peternak telur ayam non-kandang baterai dan menginvestigasi bahwa sistem non-kandang baterai yang digunakan adalah cara yang lebih sesuai standar kesejahteraan hewan ternak yang diakui oleh lembaga kesejahteraan satwa internasional.

Upaya ini bertujuan mempromosikan para produsen yang menggunakan sistem yang sesuai prinsip kesejahteraan hewan sebagai contoh bagi peternak ayam petelur yang masih menggunakan sistem kandang baterai yang kejam untuk beralih ke sistem yang lebih mensejahterakan hewan sehingga ketika demand meningkat, supply pun tersedia.

“Penggunaan sistem non-kandang baterai yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan akan bisa mendapat harga jual yang lebih kompetitif sehingga kesejahteraan peternak kecil juga ikut meningkat. Kenyataannya, justru peternak skala kecillah yang mempraktikkan sistem peternakan yang lebih ramah hewan dan lingkungan,” ucapnya.

Terkait hal itu, Sudarno, salah satu peternak ayam asal Pundong, Bantul menilai, penggunaan kandang mampu menghindarkan ayam dari berbagai bahaya dari lingkungan sekitar termasuk dari ancaman binatang buas seperti rubah. Selama kandang tetap diupayakan bersih, nyaman, aman serta memiliki udara yang segar, ia yakin akan berdampak positif pula pada kesehatan ayam-ayamnya.

“Sederhananya, ayam menjadi tidak stress, tidak mudah terserang berbagai penyakit sehingga ayam pun mampu menghasilkan telur maupun daging yang lebih baik,” ungkapnya.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…