Ricuh PSIR vs Persis (JIBI/Solopos/Moh. Khodiq Duhri) Ricuh PSIR vs Persis (JIBI/Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
Minggu, 30 Juli 2017 21:25 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Indonesia Share :

LIGA 2
Soal Sanksi Berat yang Diterima, Persis: Itu Tidak Adil!

Liga 2 diwarnai dengan Persis Solo yang mendapat sanksi dari PSSI.

Solopos.com, SOLO — Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi berat kepada Persis Solo dan Pasoepati akibat terjadinya insiden keributan suporter saat Laskar Sambernyawa bertandang ke markas PSIR Rembang di Stadion Krida Rembang, Minggu (16/7/2017) lalu.

Dalam salinan keputusan Komdis PSSI Liga 2 No. 073/L2/SK/KD-PSSI/VII/2017 tentang tingkah laku buruk suporter Persis Solo disebutkan suporter Persis Solo dihukum larangan memasuki stadion dalam dua pertandingan yakni melawan Sragen United pada Minggu (30/7/2017) dan Persiba Bantul pada Kamis (3/8). Sanksi itu diberikan karena Pasoepati dinyatakan terbukti terlibat saling lempar dengan suporter PSIR Rembang yang mengakibatkan suporter masuk lapangan.

Sementara dalam salinan keputusan Komdis PSSI Liga 2 No. 074/L2/SK/KD-PSSI/VII/2017 tentang tingkah laku buruk tim Persis Solo disebutkan Persis Solo dihukum kalah 0-3 atas PSIR Rembang. Tidak hanya itu, nilai Persis Solo juga dikurangi 3 poin plus denda senilai Rp100 juta. Denda itu wajib dibayarkan selambat-lambatnya 14 hari setelah keputusan itu diterima manajemen Persis Solo.

Akibat sanksi itu, poin Persis Solo yang tadinya 17 berubah jadi 14. Sementara poin PSIR yang tadinya 15 berubah jadi 18. PSIR Rembang secara otomatis naik ke peringkat dua menggeser Persis Solo. Sementara Persis Solo harus rela posisinya melorot di urutan tiga atau masuk zona play off supaya tidak terdegradasi.

“Sanksi itu paling berat yang pernah kami terima. Kami benar-benar diperlakukan tidak adil,” kata Chief Executive Officer (CEO) Persis Solo, Bimo Putranto, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (29/7/2017) malam.

Bimo mengaku heran dengan keputusan PSSI yang menjatuhkan sanksi kepada Persis Solo. Sebagai tamu, Persis Solo seharusnya mendapat layanan keamanan yang baik. Namun, para pemain dan ofisial tim justru mendapat pelemparan batu dari suporter lawan.

“Saya masih belum tahu bagaimana kriteria dalam penjatuhkan sanksi oleh PSSI. Kalau suporter kami dianggap melakukan tindakan tidak baik? Di mana letak tidak baiknya? Yang namanya suporter protes terhadap keputusan wasit itu hal biasa. Protes suporter itu masih wajar. Suporter PSIR juga terlibat pelemparan botol dan batu. Seharusnya mereka juga dapat sanksi berat. Bukan Persis saja yang disanksi. Ini yang membuat saya tidak habis pikir,” ujar Bimo.

Bimo menuding ada pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin menjatuhkan Persis Solo. Sebagai tim yang belum pernah terkalahkan, kata Bimo, ada pihak yang merasa tidak diungtungkan atas performa Laskar Sambernyawa. Bimo tidak ragu menyebut ada mafia yang sengaja bermain untuk menghalangi Persis Solo meraih hasil maksimal.

“Mafianya siapa itu saya tahu. Tapi, kita tidak bisa menunjukkan buktinya. Meski begitu, kami bisa merasakan adanya mafia itu,” tegas Bimo.

Manajemen Persis Solo baru membahas keputusan Komdis PSSI itu pada Sabtu malam. “Saya pribadi akan mengajukan banding atas keputusan PSSI itu. Tapi, saya perlu membahas bersama manajemen dulu,” lanjut Bimo.

Sementara itu, Anggota Komdis PSSI, Dwi Irianto, mengatakan keputusan sanksi untuk Persis itu dibahas dalam sidang Komdis PSSI yang digelar Kamis (27/7/2017). Pada Jumat (28/7/2017), surat keputusan itu langsung dikirim ke manajemen Persis Solo.

“Kenapa keputusan diberikan mepet dengan pertandingan yang dijalani Persis [melawan Sragen United] karena sidang juga baru digelar Kamis. Pada Jumat putusan itu sudah kami kirim ke manajemen. Selain Persis, Panpel PSIR Rembang juga dijatuhi denda senilai Rp10 juta karena tidak bisa mencegah masuknya suporter ke lapangan,” papar Dwi Irianto yang akrab disapa Mbah Putih ini.

Kami Toko Cat Warna Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Memahami Perppu Ormas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (26/7/2017). Esai ini karya M. Dian Nafi’, pengasuh pesantren khusus mahasiswa Al-Mu’ayyad di Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo dan aktif di komunitas perdamaian lintas iman dan lintas golongan. Alamat e-mail penulis adalah mdn4fi@yahoo.com. Solopos.com,…