Penari berkostum lurik unjuk kebolehan dalam Klaten Lurik Carnival (KLC) 2017 di Jl. Pemuda, kawasan alun-alun Klaten, Sabtu (29/7/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Penari berkostum lurik unjuk kebolehan dalam Klaten Lurik Carnival (KLC) 2017 di Jl. Pemuda, kawasan alun-alun Klaten, Sabtu (29/7/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 30 Juli 2017 14:35 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

KLATEN LURIK CARNIVAL 2017
Cantiknya Lurik Dipadukan dengan Ragam Potensi Wilayah

Sebanyak 36 kontingen mengikuti Klaten Lurik Carnival 2017 di Jl. Pemuda, Klaten.

Solopos.com, KLATEN — Riuh teriakan dan tepuk tangan penonton menyambut saat melihat gerakan rancak para lelaki penari kontingen Kecamatan Delanggu. Sementara suara bambu mengiringi gerakan para perempuan penari yang memegang seikat padi di tangan kiri.

Penari pria mengenakan kostum lurik warna hijau tua dipadu merah dan warna emas. Sedangkan penari perempuan mengenakan mahkota, baju lurik sogan dikombinasikan dengan selendang warna emas.

Suara bambu mengisyaratkan cara warga Delanggu mengusir burung-burung yang hinggap di hamparan sawah menguning di tanah yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Hal berbeda disajikan penari-penari asal Kecamatan Juwiring.

Dengan lincah, empat penari memainkan tari Luyung (lurik dan payung) dengan payung kertas warna merah produksi Juwiring. Sebagai kostumnya, mereka memilih lurik warna sogan untuk bawahan dipadu atasan warna bermotif etnik.

Hiasan dari bulu warna merah jambu menambah kemolekan penari-penari remaja siang itu. Juwiring memang dikenal sebagai penghasil payung kertas tradisional. Payung-payung serupa juga dipajang di sepanjang Jl. Pemuda.

Kombinasi payung kertas dan lurik sejalan dengan tema Budaya Lokal Berkeunggulan Global yang diusung kontingen asal Juwiring dalam Klaten Lurik Carnival (KLC) 2017, Sabtu(29/7/2017) itu. Ide itu merupakan kombinasi buah pemikiran guru dan murid SMKN 1 Juwiring.

Butuh sepekan untuk mempersiapkan ide, kostum, hingga koreografi. “Koreografi paling sulit sebab ini yang paling kentara saat dilihat orang,” ujar Rizal Sadarwati, 17, siswi kelas XII Administrasi Perkantoran, saat ditemui wartawan di sela-sela karnaval, Sabtu.

Ia tak menampik merasa grogi saat menari di hadapan Plt. Bupati dan jajaran Muspida kendati ini merupakan penampilan kali keduanya. Untuk koreografi, ia dan kawan-kawannya latihan empat hingga lima jam sepulang sekolah selama lima hari jelang karnaval.

“Latihan sendiri baru mulai Senin dan geladi bersih Jumat kemarin,” tutur perempuan penyuka tari itu.

Di Jl. Pemuda sepanjang dua kilometer yang menjadi catwalk itu para model dan penari berbalut kostum lurik warna-warni berjalan lenggak-lenggok. Beratapkan langit kelabu Kota Klaten, mereka menebar senyum kepada setiap penonton.

Sebuah panggung kehormatan berdiri di depan Gedung Sunan Pandanaran RSPD Klaten. Di hadapan Plt. Bupati Klaten dan Muspida, ke-36 kontingen menunjukkan kepiawaian mereka menari, mementaskan mini drama, parade busana, hingga bermusik dengan durasi empat menit setiap kelompok.

Pada karnaval lurik memperingati Hari Jadi ke-213 Klaten ini, lurik sengaja dipadupadankan dengan potensi wilayah. Di Cawas, seluruh kostum yang dipakai merupakan asli produksi pengrajin lurik Cawas dengan alat tenun bukan mesin (ATBM).

KLC diharapkan bisa mengangkat pamor lurik dan pengrajin untuk berdaya saing terhada produk lurik pabrikan. “Ini bagian tersulit. Bagaimana mempersiapkan kostum dan koreografi yang bisa menunjukkan lurik ATBM tak kalah dengan produk lurik hasil mesin pabrik. Kami butuh sebulan untuk mempersiapkannya,” tutur Camat Cawas, Much. Nasir.

 

PT TUGU BETON SEMESTA ABADI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Memahami Perppu Ormas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (26/7/2017). Esai ini karya M. Dian Nafi’, pengasuh pesantren khusus mahasiswa Al-Mu’ayyad di Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo dan aktif di komunitas perdamaian lintas iman dan lintas golongan. Alamat e-mail penulis adalah mdn4fi@yahoo.com. Solopos.com,…