Pementasan wayang beber di Dusun Gelaran II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, pada Kamis (27/7) (JIBI/Irwan A. Syambudi) Pementasan wayang beber di Dusun Gelaran II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, pada Kamis (27/7) (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Minggu, 30 Juli 2017 02:22 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

KESENIAN TRADISIONAL GUNUNGKIDUL
Belum Ada Upaya Khusus Lestarikan Wayang Beber

Kesenian tradisional Gunungkidul berupa wayang beber

Solopos.com, GUNUNGKIDUL — Seni Pertunjukkan wayang beber yang ada di Kabupaten Gunungkidul terancam punah karena semakin jarang dipentaskan. Namun demikian Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul belum memiliki upaya khusus untuk melestarikannya.

epala Seksi Seni dan Film, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Purnawan Widayanto mengakui  bahwa wayang beber sudah semakin jarang dipentaskan. Seni pertunjukkan wayang menggunakan gambar wayang yang digelar di sebuah kertas tersebut memang dinilai sakral. Pun demikian hanya ada sedikit orang yang bisa mendalang menggunakan wayang beber.

“Kalau dulu kerap dipentaskan di festival ataupun pada saat hari jadi Kabupaten Gunungkidul, tapi sekarang ini memang sudah jarang dipentaskan,” kata dia, Jumat (28/7/2017).

Namun demikian, pihaknya belum memiliki upaya khusus dalam melakukan pelestarian terhadap seni pertunjukkan tersebut. Padahal, konon wayang beber yang asli hanya ada dua di Indonesia, yakni di Kabupaten Pacitan dan di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul.

“Belum ada upaya khusus untuk pelestarian, karena wayang beber itu kan sangat spesifik. Tapi kemarin [naskah gambar wayang beber] yang di Bejiharjo sudah diduplikasi,” ujarnya.

Saat ini wayang beber asli satu-satunya yang ada di Gunungkidul masih tersimpan rapi di kediaman Rubiyem, di Desa Bejiharjo. Rubiyem merupakan generasi ke-14 pemilik wayang beber yang diperkirakan pertama kali dibuat pada 1735.

OMEGA COM SOLO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Menghentikan Perundungan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (25/7/2017). Esai ini karya Dian Sasmita, Direktur Sahabat Kapas, lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada perlindungan anak. Alamat e-mail penulis adalah dianmiyoto@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Sepekan terakhir dua video perundungan yang dilakukan sekelompok mahasiswa di…