Pedagang garam, Ahmad, menata puluhan bal garam di kios di Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo, Selasa (25/7/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos) Pedagang garam, Ahmad, menata puluhan bal garam di kios di Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo, Selasa (25/7/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)
Minggu, 30 Juli 2017 19:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

Harga Garam Melonjak, Gubernur Ganjar Dukung Impor

Harga garam yang melonjak, membuat Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ikut-ikutan mendukung impor komoditas kebutuhan pokok warga itu.

Semarangpos.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu tampak penuh semangat mendorong swasembada garam di provinsinya melalui ide pembangunan pabrik pengolahan garam. Namun, seiring meroketnya harga kebutuhan pokok masyarakat itu belakangan hari ini, ia mendadak latah mendukung impor garam.

[Baca juga Studi Kelayakan Rampung Maret Ini, Pabrik Garam Segera Dibangun]

Gubernur Ganjar Pranowo beralasan impor garam tidak bisa dihindari demi memenuhi kebutuhan garam di dalam negeri. “Impor garam memang tidak bisa dihindari karena produksi garam di Indonesia masih sangat sedikit dan belum banyak pabrik garam di Indonesia,” katanya di Kota Semarang, Minggu (30/7/2017).

Oleh karena itu, Ganjar mendukung jika pemerintah melalui Kementerian Perdagangan melakukan impor garam akibat dari kelangkaan garam. Politikus PDI Perjuangan itu juga berharap pemerintah segera membangun pabrik garam sebagai upaya menjaga keberlanjutan produksi dan terjaminnya kualitas garam yang dihasilkan.

“Indonesia yang dua pertiganya laut masih impor garam karena kita tidak bisa memproduksi,” ujar mantan anggota DPR RI itu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah Lalu M. Syafriadi mengungkapkan produksi garam di Jateng yang merupakan terbesar kedua di Indonesia setelah Provinsi Jawa Timur mengalami penurunan di bawah 10% pada 2016 hingga pertengahan 2017. “Produksi garam di Jateng pada 2015 tercatat 832.000 ton, tapi pada 2016 mengalami penurunan di bawah 10% karena musim kemarau basah, sedangkan kebutuhan garam kita luar biasa tingginya,” katanya.

Menurut dia, turunnya produksi garam di Jateng itu berpengaruh pada permintaan masyarakat dan mengakibatkan ketidakseimbangan permintaan pasar. Ia mengharapkan produksi garam pada 2017 mengalami peningkatan karena faktor cuaca sudah mendukung. “Mudah-mudahan 2017 ini hujannya sudah jarang sehingga mulai ada produksi,” ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

NASMOCO SOLOBARU, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Masa Depan Keroncong

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (27/7/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, peserta Program Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang sedang menyusun disertasi tentang estetika keroncong karya Gesang. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Festival musik…