Petani memanen garam di tambak wilayah Kabupaten Pati, Jateng, Sabtu (15/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Harviyan Perdana Putra) Petani memanen garam di tambak wilayah Kabupaten Pati, Jateng, Sabtu (15/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Harviyan Perdana Putra)
Minggu, 30 Juli 2017 13:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

Harga Garam Melambung, Petani Pati Tak Ikut Untung

Harga garam kebutuhan pokok masyarakat yang melambung di pasaran tak serta merta membuat petani garam Pati beruntung.

Solopos.com, PATI – Sejumlah petani garam di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng) mengaku tak ikut menikmati keuntungan seiring melonjaknya harga kebutuhan pokok masyarakat itu di pasaran.

Masih seringnya turun hujan membuat mereka tidak bisa berproduksi. Karema itu, para petani garam di Pati itu tak memiliki cukup bahan kebutuhan pokok masyarakat itu untuk dijual dengan harga mahal.

Seorang petani garam asal Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Suparwi, Jumat (28/7/2017), mengatakan lahan tambak garam miliknya yang luasnya mencapai 3 ha belum bisa digunakan untuk memproduksi garam, karena masih sering hujan. Barang kebutuhan pokok masyarakat itu membutuhkan terik matahari yang cukup untuk diproduksi.

Padahal, kata dia, harga jual garam saat ini mencapai Rp3.700/kg, sedangkan tahun lalu hanya Rp550/kg. Sementara saat ini, kata dia, ketika harga melonjak, petani garam tidak memiliki stok, karena lahannya tidak bisa diolah.

Sarwo, juga petani garam, menyatakan bahwa lahan tambak garamnya hingga kini belum bisa digunakan, karena cuacan belum mendukung. Untuk mengisi waktu luang sambil menunggu datangnya musim kemarau, dia mencoba, memelihara udang, namun tidak membuahkan hasil.

“Ternyata, cuaca yang tidak menentu turut memengaruhi pertumbuhan udang, sehingga tidak bisa besar karena stres,” ujarnya.

Ketika cuaca yang tidak menentu seperti sekarang, kata dia, petani garam sebetulnya masih bisa berproduksi dengan menggunakan media geoisolator atau plastik pelapis tambak garam. Informasinya, kata dia, dengan cara seperti itu masa panennya lebih pendek, dibandingkan menggunakan media tanah.

“Kami berharap, pemerintah memberi bantuan plastik sebagai alas tambak,” ujarnya. Ia mengakui, plastik tebal masih langka di Kecamatan Batangan, karena harganya mencapai jutaan rupiah dan belum dijual bebas di masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kelautan Perikanan Pati, produksi garam rakyat di Kabupaten Pati tahun 2016 sebanyak 366.000 ton. Jumlah tersebut tergolong lebih rendah dari tingkat produksi tahun 2015 yang mencapai 381.704 ton.

Produksi garam di Kabupaten Pati masih menggunakan cara sederhana, sehingga untuk meningkatkan produktivitasnya membutuhkan peralatan modern, termasuk dalam proses pemadatan dan pengemasannya. Tempat usaha yang melakukan pengemasan garam di Kabupaten Pati, kini berburu garam hingga ke Sulawesi, Madura serta garam impor dari India dan Australia.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…