Seornag nelayan di pantai Wawaran, Suntoro, saat memperbaiki jaring miliknya di atas perahu yang terparkir di pantai Wawaran, Sabtu (10/9/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Seornag nelayan di pantai Wawaran, Suntoro, saat memperbaiki jaring miliknya di atas perahu yang terparkir di pantai Wawaran, Sabtu (10/9/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Minggu, 30 Juli 2017 18:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Gelombang Laut Pacitan Capai 4 Meter, Tangkapan Nelayan Menurun

Gelombang tinggi di laut Pacitan membuat tangkapan ikan nelayan di Pacitan menurun.

Solopos.com, PACITAN — Tinggi gelombang pantai selatan wilayah Pacitan mencapai 4 meter dalam beberapa hari terakhir. Ketinggian gelombang ini membuat nelayan kesulitan melaut dan pendapatan mereka turun drastis.

Ketua Kelompok Nelayan Mutiara Pantai Tamperan, Hartono, mengatakan sepekan terakhir pendapatan nelayan di Pacitan berkurang. Hal ini dipengaruhi gelombang tinggi yang mengebabkan hasil tangkapan nelayan menurun.

Pada pekan kelima Juli ini tinggi ombak di laut selatan Pacitan mencapai empat meter. Dia mengatakan sebagian nelayan ada yang melaut dalam kondisi gelombang tinggi, namun hasilnya memang tidak sebagus saat gelombang normal.

Dalam kondisi normal, nelayan dengan kapasitas kapal 10 gross tonage (GT) hingga 30 GT mampu menangkap 7-10 ton ikan. Namun, pada kondisi cuaca buruk seperti sekarang hanya mampu menangkap 4-5 ton ikan. Biaya yang dikeluarkan nelayan dalam sekali melaut Rp30 juta hingga Rp40 juta.

“Selain kesulitan menebar jaring, gelombang yang kuat mengakibatkan kapal bergoyang keras sehingga ikan hasil tangkapan tidak lagi banyak karena banyak yang rusak,” kata dia, Jumat (28/7/2017).

Hartono menyampaikan untuk perahu kecil berkapasitas di bawah 5 GT yang biasanya digunakan nelayan lokal hanya berani beroperasi di pinggir saat cuaca buruk dan gelombang tinggi. Bahkan, jika kondisi cuaca ekstrem nelayan terpaksa berhenti melaut.

Untuk menyambung hidup, kata dia, nelayan lokal beralih pekerjaan sementara seperti bekerja di sawah, ladang, atau menjadi buruh bangunan. Menurut dia, perubahan cuaca serta gelombang laut yang cenderung fluktuatif sebenarnya terpantau jelas dari Pusat Data dan Informasi BPBD Pacitan.

Data perubahan cuaca itu biasanya telah disampaikan kepada nelayan. Melalui informasi yang cepat tersebut diharapkan nelayan lebih waspada dan berhati-hati.

“Kondisi ini tidak berlangsung lama. Memasuki Agustus biasanya sudah normal,” jelas dia yang dikutip Madiunpos.com dari laman resmi pacitankab.go.id, Minggu (30/7/2017).

 

KSP ARTHA MULIA CABANG KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Masa Depan Keroncong

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (27/7/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, peserta Program Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang sedang menyusun disertasi tentang estetika keroncong karya Gesang. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Festival musik…