Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/detikcom) Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/detikcom)
Minggu, 30 Juli 2017 00:00 WIB Jafar Sodiq Assegaf/JIBI/Solopos.com Internasional Share :

Dewan Desa yang Hukum Pemerkosa Balas Diperkosa Diburu Polisi

Dewan desa di Pakistan menjadi buruan polisi akibat membuat keputusan kontroversial.

Solopos.com, ISLAMABAD – Sekelompok dewan desa di Pakistan membuat keputusan kontroversial dengan mengizinkan seorang remaja 16 tahun diperkosan sebagai pembalasan atas pemerkosaan yang dilakukan kakak laki-lakinya. Kini, 29 orang yang terlibat dalam keputusan bejat itu menghadapi tuntutan pengadilan.

“Ada total 29 orang yang terlibat dalam kejahatan ini, 25 di antaranya sudah dalam penahanan,” kata Polisi Kota Multan Ahsan Younus dilansir laman The Star, Kamis (27/7).

Cerita ini berawal ketika ada keluarga menuduh seorang remaja laki-laki 16 tahun memperkosa bocah 13 tahun tetangganya. Keluarga itu lantas melapor kepada dewan desa.

Para tetua adat di desa itu kemudian memutuskan saudara perempuan dari si remaja laki-laki harus diserahkan kepada kakak laki-laki korban untuk diperkosa. Hukuman pemerkosaan akhirnya dilakukan pada 17 Juli lalu setelah remaja perempuan itu diserahkan keluarganya.

“Semua tetua desa yang memerintahkan pemerkosaan itu sudah ditangkap,” ujar Younus.

Tradisi adat di Pakistan semacam ini sudah berlangsung selama ratusan tahun. Para tetua adat yang disebut jirgas atau panchayats kerap diminta menjadi pengambil keputusan suatu kasus hukum.

Peristiwa serupa pernah menjadi sorotan internasional ketika pada 2002 silam seorang perempuan bernama Mukhtaran Mai diperkosa beramai-ramai atas perintah suatu dewan desa sebagai hukuman balasan atas pemerkosaan yang dilakukan kerabat laki-lakinya.

Mai kemudian mengajukan tuntutan hukum kepada para penyerangnya dan enam pelaku kemudian dijatuhi hukuman mati. Sedangkan lima orang lagi dibebaskan.

PT TUGU BETON SEMESTA ABADI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Menghentikan Perundungan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (25/7/2017). Esai ini karya Dian Sasmita, Direktur Sahabat Kapas, lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada perlindungan anak. Alamat e-mail penulis adalah dianmiyoto@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Sepekan terakhir dua video perundungan yang dilakukan sekelompok mahasiswa di…